Sabtu 09 Sep 2017 17:58 WIB

'Jeritan' Tere Liye dan Dee Lestari Masih Langkah Awal

Rep: Singgih Wiryono/ Red: Bilal Ramadhan
Satu lagi karya populer penulis Dewi Lestari, Filosofi Kopi, akan segera tayang di layar bioskop.
Foto: Antara
Satu lagi karya populer penulis Dewi Lestari, Filosofi Kopi, akan segera tayang di layar bioskop.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif, Endah W. Sulistianti, apa yang menjadi keluhan penulis seperti Tere Liye dan Dee Lestari menjadi langkah awal dari perbaikan intensif pajak profesi penulis. Endah mengatakan, memperjuangkan isu klasik tersebut masih memerlukan waktu yang sangat panjang.

"Itu panjang sekali jalannya, karena tidak hanya di permukaan," ujar dia saat ditemui Republika.co.id selepas membuka acara workshop penulis dan penerbit di JCC Senayan, Jakarta, Sabtu (9/9).

Permasalahan tersebut, lanjut dia, akan merambah ke tataran regulasi dan kebijakan pemerintah. Mantan pewrta tersebut juga menjelaskan, permasalahan tersebut juga harus dilihat dan dikaji secara sistemik karena berkaitan dengan pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi.

"Ada komitmen kuat dari pemerintah untuk membuka istilahnya untuk bekerja sama (dengan Penulis)," jelas dia.

Endah menjelaskan, salah satu yang memberikan statement keluhan intensif pajak adalah Dee Lestari. Penulis Novel Fiksi asal Batak itu, lanjut Endah, sudah memberikan statement yang langsung diteruskan kepada Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf dan diteruskan ke Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tanggapan tersebut, Endah melanjutkan, langsung ditanggapi langsung keluar surat dari Dirjen Pajak. Hal tersebut, lanjut dia, menjadi satu titik awal karena reaksi pemerintah yang cepat menjadi sinyal baik bagi para penulis.

"Ini masih titik awal seperti yang di ungkapkan Mbak Dewi Lestari royalti Penulis itu cuman 10 persen (dari penjualan buku) 90 persen itu komponen fisik. Sudah sebesar itu penerbit pun kena pajak berlapis ada pajak kertas, PPN ini, PPN itu, makanya dia (penerbit) memberikan royalti kecil sekali ke penulis jadi ini perjuangan yang baru," ujar dia.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement