Senin 07 Aug 2017 23:27 WIB

Nelayan Kecil Aceh Barat Kesulitan BBM

Nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya (ilustrasi)
Foto: Maspril Aries/Republika
Nelayan menurunkan ikan hasil tangkapannya (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, MEULABOH -- Sejumlah nelayan di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh yang menggunakan armada kecil masih kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis solar. Akibatnya, aktivitas mereka melaut terganggu.

"Saya tidak perlu banyak minyak, cuma satu jeregen atau sekitar 10 liter per hari, itupun sulit dapatnya. Kadang nanti kalau tidak dapat, tidak melaut dulu, kalau sudah ada baru jalan lagi," kata Salfajar (47) salah satu nelayan di Meulaboh, Senin (7/8).

Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan usai membongkar hasil tangkapan pada armada kecilnya berkapasitas di bawah lima grosstonage (GT) di lokasi Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Dia berangkat melaut pukul 04.30 WIB, kemudian mencari ikan di wilayah perairan Aceh Barat dan kembali ke daratan pukul 09.40 WIB.

Dia bersama rekannya membawa pulang hasil tangkapan delapan ember atau sekitar 80 kilogram ikan campuran. Untuk pagi Senin (7/8) dia menyatakan kondisi gelombang di laut wilayah mereka masih lumayan ektrem. Ombak atau gelombang sangat terasa bagi armada kecil sehingga perlu lebih was-was ketika dalam posisi di laut lepas.

"Alun gelombangnya tinggi, tapi lumayan ada ikannya, banyak ikan campuran ukuran sedang. Ikannya hari ini banyak karena air lautnya keruh, jadi ikan-ikan tidak begitu nampak melihat mata jaring. Cuma jenis ikannya campur-campur," katanya.

Sementara itu Muhksinin (52) salah seorang pedagang eceren ikan segar di lokasi pasar setempat menyampaikan, harga ikan basah justru mengalami kenaikan karena pasokan terbatas. Terutama jenis ikan seperti kembung, bandeng dan ikan karang.

"Hampir rata-rata mengalami kenaikan, sebab kami beli pada toke bangku (pelaku lelang, Red), hampir semuanya naik Rp 10 ribu per kilogram. Kalau ikan campuran memang harganya tidak begitu terpengaruh," sebutnya.

Ikan kembung biasanya mereka beli seharga Rp 35 ribu per kilogram hingga Rp 40 ribu per kilogram. Kemudian mereka ecer seharga Rp 50 ribu per kilogram. Saat ini untuk harga di pengusaha pelelangan ikan sudah naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram sehingga harga eceran menjadi Rp 60 ribu per kilogram.

Kemudian ikan bandeng, dari harga Rp 25 ribu per kilogram naik menjadi Rp 35 ribu per kilogram. Ikan bandeng hari-hari normal mereka beli pada proses pelelangan ikan di lokasi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) seharga Rp 15 ribu per kilogram, kemudian naik menjadi Rp 25 ribu per kilogram.

Ikan tongkol dari harga Rp 18 ribu per kilogram naik menjadi Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram. Kondisi tersebut terjadi sejak Sabtu (5/8) karena kondisi cuaca ektrem menghambat aktivitas nelayan melaut. Selain itu banyak juga nelayan juga tidak melaut karena kesulitan BBM Solar.

"Kalau bahasa nelayan saat ini ada namanya kena 'Bintang Kala', biasanya bakat atau alun gelombang di laut besar, namun ikan banyak. Tapi para nelayan armada tertentu tidak melaut dalam kondisi demikian," katanya menambahkan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement