Selasa 25 Jul 2017 15:32 WIB

Lampung Kekurangan Garam

Rep: Mursalin Yasland/ Red: Yudha Manggala P Putra
 Pedagang menunjukan garam di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Ahad (5/3).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Pedagang menunjukan garam di Pasar Tebet Timur, Jakarta, Ahad (5/3).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDAR LAMPUNG -- Stok garam di gudang-gudang di wilayah Lampung terus menipis. Sementara harga jual garam sudah naik mencapai 400 persen.  

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Provinsi Lampung Ferynia mengatakan, kekurangan garam di wilayah Lampung harus menunggu pasokan dari luar Lampung.  Pasokan tersebut termasuk garam impor atau pasokan dari distributor garam di luar Lampung.

Ia menambahkan sembari menunggu garam impor yang tiba di tiga pelabuhan di Indonesia, pihaknya terus meminta distributor garam di Lampung untuk mengontak distributor daerah lain seperti NTT.

Terkait dengan menipisnya stok garam, Pemprov Lampung sudah menyampaikan ke Kementerian Perdagangan. Dalam datanya, stok garam di wilayah Lampung sekitar 120 ton, bila tidak disuplai dari daerah lain sepekan ke depan, maka akan terjadi kelangkaan garam. "Kebijakan impor garam dari pusat. Kami masih menunggu Lampung dapat atau tidak," kata dia, Selasa (25/7).

Di sisi lain, pelaku usaha yang menggunakan garam mulai menjerit dengan tingginya harga garam. Usaha ikan asin mulai melakukan penghematan penggunaan garam.  "Harga ikan asin juga ikutan naik, karena harga garam naik empat kali lipat," kata Sayuti, pengelola usaha ikan asin di TPI Lempasing.

Harga garam ukuran 400 gram sebelumnya dijual Rp 1.000 sekarang sudah naik menjadi Rp 4.000 juga mempengatruhi pelaku usaha katering.

Wati, salah satu pengelola katering di Beringin Raya Kemiling, mengatakan kini terpaksa berhemat penggunaan garam. Menurutnya tidak ada jalan lain sekain berhemat, meski tetap berusaha agar tidak terlalu banyak mengurangi rasanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement