Rabu 14 Jun 2017 18:34 WIB

9.914 Jiwa Warga Tolitoli Mengungsi Akibat Banjir

Banjir (ilustrasi).
Foto: Republika/Raisan Al Farisi
Banjir (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Sebanyak 328 kk atau sekitar 9.914 jiwa warga di Kota Tolitoli, Kabupaten Tolitoli terpaksa kembali mengungsi ke berbagai tempat lebih aman guna menghindari terjangan banjir bercampur lumpur yang terjadi pada Selasa (13/6) pukul 15.30 WITA di daerah itu.

Anggota Fraksi Partai PDI Perjuangan DRPD Provinsi Sulawesi Tengah, Matindas J Rumambi dari lokasi banjir via telepon kepada ANTARA, Rabu (14/6) mengatakan ada tujuh kecamatan yang dilanda banjir.

Sebagian besar warga di tujuh kecamatan tersebut terpaksa kembali meninggalkan rumah mengungsi sementara ke tempat yang aman baik di rumah warga maupun tenda-tenda pengungsi yang disedikan Pemkab dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyusul banjir lumpur kembali menerjang permukiman warga di Ibu Kota Kabupaten Tolitoli.

Akibat banjir tersebut sebanyak 92 rumah rusak ringan,199 rusak sedang dan 154 rusak berat serta 18 rumah lainnya terseret banjir bandang.

Yang lebih parah lagi, kata dia, hampir seluruh sekolah di Tolitoli terendam banjir sehingga memerlukan perhatian khusus dari pemerintah mengingat pada 3 Juli 2017 ada kegiatan penerimaan siswa baru tahun ajaran 2017/2018. "Pemkab Tolitoli perlu mengambil langkah antisipasi agar kegiatan dimaksud tidak terhambat," kata Rumambi.

Pada 3 Juni 2017, kata dia, banjir bandang memporak-porandakan rumah, perkantoran, sekolah, sarana air bersih, bahkan beberapa titik jalan putus akibat terjangan banjir disertai tanah longsor.

Saat banjir bandang pertama kali menghajar sejumlah wilayah di Kabupaten Tolitoli, sebanyak 65 ribu warga terdampak bencana alam tersebut.

Banjir bandang yang terbesar selama beberapa puluh tahun terakhir yang melanda daerah penghasil cengkih terbesar di Provinsi Sulteng itu, merusak jaringan air bersih milik Perusahaan Daerah Air Munum (PDAM) setempat. Belum sempat diperbaiki oleh pihak PDAM, banjir kembali terjadi di kota itu sehingga semakin memperparah tingkat kerusakaan jaringan pipa air bersih.

Pemerintah daerah, kata dia, perlu mengambil langkah cepat untuk memperbaiki kembali sarana dan prasarana infranstruktur yang rusak karena bencana alam banjir dan tanah longsor di daerah itu.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement