Kamis 23 Mar 2017 01:14 WIB

Hari Air, Bupati Sleman Imbau Masyarakat Hentikan Pencemaran Lingkungan

Rep: Rizma Riyandi/ Red: Winda Destiana Putri
Air
Air

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Bertepatan dengan hari air se-dunia yang ke-25, Bupati Sleman Sri Purnomo mengimbau agar masyarakat menghentikan pencemaran lingkungan. Salah satunya dengan tidak membuang limbah cair secara sembarangan.

Pasalnya Pemkab Sleman sendiri sudah mendorong pengelolaan limbah cair dengan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) Komunal di Sewon, Bantul. "IPAL komunal adalah sarana pengolahan limbah agar limbah tidak mencemari tanah dan lingkungan," kata Sri pada Peringatan Hari Air Sedunia bertema Water and Watewater, di Embung Gadung Wisata Salak Pondoh Bangunkerto, Turi, Rabu (22/3).

Dengan begitu, menurutnya, air dapat kembali ke sungai dalam kondisi sehat. Di sisi lain, sisa residu dari hasil pengelolaan limbah di IPAL bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Sri berharap peringatan hari air ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap manajemen air.

Pasalnya air merupakan unsur penting bagi kehidupan. Air tidak hanya menjadi sumber konsumsi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi faktor pendukung pembangunan ekonomi. Ia mengemukakan, masalah air yang sedang dihadapi saat ini adalah bagaimana cara untuk memanfaatkan dan mengelola sumber air agar memiliki kualitas yang baik.

Sri Purnomo mengatakan, Pemkab Sleman selalu berpijak pada tiga pilar utama pengelolaan air. Konsep tersebut sesuai dengan UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang pengelolaan sumber daya air, yakni konservasi sumber daya air, pemberdayaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

Konservasi sumber daya air di Sleman diupayakan untuk menyimpan sumber daya air sebanyak mungkin. Upaya penyimpanan tersebut melalui pembuatan embung di berbagai tempat di Sleman. "Termasuk membuat sumur resapan di Komplek Pembangunan yang besar dan membuat biopori di daerah yang memiliki lahan kecil," kata Sri.

Terkait permasalahan daya rusak air berlebihan seperti banjir, Sri mengajak masyarakat untuk peduli dan peka terhadap kondisi lingkungan di sekitar. Ia menjelaskan, banjir di Sleman diakibatkan adanya selokan yang tersumbat. "Maka itu, jika terjadi banjir diharapkan masyarakat memiliki antusias sendiri untuk membersihkan selokan yang tersumbat tanpa harus menunggu tindakan dari pemerintah," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement