Selasa 07 Feb 2017 11:02 WIB

Selama 5 Hari, Letusan Gunung Sinabung Tercatat 47 Kali

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Andi Nur Aminah
Gunung Sinabung mengeluarkan material vulkanik ketika erupsi dilihat dari Desa Raja Payung, Karo, Sumatera Utara, Rabu (31/8).
Foto: Antara/Tibta Perangin-angin
Gunung Sinabung mengeluarkan material vulkanik ketika erupsi dilihat dari Desa Raja Payung, Karo, Sumatera Utara, Rabu (31/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatra Utara terus meletus. Sejak Kamis (2/2) hingga Selasa (7/2) pagi tercatat sudah 47 kali meletus.

Pos pengamatan Gunung Sinabung PVMBG mengamati erupsi disertai luncuran awan panas terus berlangsung tanpa dapat diprediksi kapan aktivitas vulkanik akan menurun. Sejak Juni 2015 hingga sekarang status Gunung Sinabung tetap Awas (level IV). Kawasan rawan bencana terus meluas.

PVMBG melaporkan berturut-turut letusan pada Kamis (2/2) sebanyak delapan kali, lalu pada Jumat (3/2) meletus 12 kali, Sabtu (4/2) meletus lagi 12 kali. Selanjutnya Ahad (5/2) sudah meletus tujuh kali hingga sore hari. "Sejak Senin (6/2) hingga Selasa (7/2) pagi ini terjadi erupsi sebanyak delapan kali letusan tanpa disertai suara dentuman, kolom abu putih tebal keabuan mencapai ketinggian seribu hingga dua ribu meter dari puncak, condong mengarah timur. Erupsi juga disertai guguran lava meluncur sejauh 500 hingga dua ribu meter ke arah selatan, tenggara, dan timur," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (7/2).

Larangan terhadap masyarakat terus diberlakukan. PVMBG merekomendasikan masyarakat dan pengunjung atau wisatawan tidak boleh melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari puncak, dan dalam jarak tujuh kilometer untuk sektor selatan-tenggara, di dalam jarak enam kilometer untuk sektor tenggara-timur, serta di dalam jarak empat kilometer untuk sektor utara-timur Gunung Sinabung. "Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap potensi bahaya lahar," kata Sutopo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement