Jumat 13 Jan 2017 05:13 WIB

Mendes Apriasi Pendirian BUMDes Tummolo

Rep: Ali Mansur/ Red: Hazliansyah
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (tengah) didampingi Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo (kiri) dan Kepala Desa Luwoo Junus Hako (kanan) meninjau gudang milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tummulo di Desa Lowo
Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo (tengah) didampingi Bupati Gorontalo Nelson Pomalingo (kiri) dan Kepala Desa Luwoo Junus Hako (kanan) meninjau gudang milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tummulo di Desa Lowo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo, mengapresiasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tummoloyang telah membangkitkan perekonomian masyarakat. Pendirian BUMDes Tummolo sendiri berawal dari keresahan masyarakat Desa Luwoo, Kabupaten Gorontalo terhadap harga barang yang fluktuatif di pasaran. Itu diakibatkan karena mahalnya biaya transportasi.

"Saya senang sekali BUMDes ini sudah jalan. Kami komitmen berikan insentif untuk BUMDes ini sebesar Rp 50 juta," ujar Mendes PDTT Eko Sandjojo saat meninjau langsung BUMDesa Tummulo, hari ini.

Menteri Eko juga berpesan agar usaha BUMDes ini dikembangkan, sehingga tidak hanya bergerak di bidang retail, melainkan juga bisa mengelola sarana produksi pertanian.

Dia berharap masyarakat pedesaan dapat manfaatkan dana desa untuk bangun embung, lalu BUMDesa yang mengelola itu. Tidak hanya untuk pertanian, melainkan juga dikembangkan jadi sarana perikanan dan pariwisata.

Masyarakat Desa Luwoo merespons positif pembentukan BUMDes Tummulo. Terlebih, bagi para pemilik kios kecil yang sempat sangat terbebani. BUMDesa yang terbentuk pada 18 Januari 2016 lalu ini membangkitkan kembali "warung jatuh bangun" di desa ini.

"Kami sediakan jasa pelayanan antar gratis sampai ke kios. Jadi kami yang membeli di pusat kota, lalu kami antar dengan bajaj hingga ke rumah. Mereka bisa menghemat biaya transportasi yang cukup besar," kata Dewi, salah satu masyarakat Desa Luwoo, seperti dikutip dari laman Kemendesa, Kamis (12/01).

Dewi mengatakan, Mekanisme grosir yang diterapkan, membuat harga barang menjadi terjangkau dan relatif lebih murah daripada harga yang dijual di supermarket modern. Selain itu, hanya 63 warung yang terdaftar sebagai anggota BUMDes yang dapat membeli barang secara grosir. Hal itu memberi efek positif pada kestabilan harga barang yang ada di Desa Luwoo dan sekitarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement