Selasa 19 Jul 2016 15:25 WIB

Tak Diangkut Sejak Lebaran, Sampah Menumpuk di Pasar Singaparna

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ilham
Sampah menumpuk (ilustrasi)
Foto: Republika/Edi Yusuf
Sampah menumpuk (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Sejumlah warga dan pedagang di Pasar Tradisional Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya mengeluh. Mereka mengancam mogok bayar retribusi kebersihan karena banyak sampah yang belum diangkut sejak Lebaran dan menimbulkan bau tidak sedap.

Salah seorang warga Singaparna, Lucky (40 tahun) mengatakan, kerap terganggu dengan bau busuk sampah yang menumpuk di depan rumahnya. Ia pun tidak mengetahui secara pasti mengapa sampah tidak segera diangkut. Padahal pedagang di pasar membayar retribusi kebersihan.

"Bayangkan setiap hari saya harus menghirup baunya sampah," kata Lucky kepada Republika.co.id, Selasa (19/7).

Salah seorang pedagang di Pasar Tradisional Singaparna, Sauqi (36), mengaku, tumpukan sampah yang membusuk membuat omzetnya menurun. Sebab, pembeli menjadi berkurang, kemungkinan mereka enggan datang karena banyak tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap.

"Karena bau busuk sampah juga membuat pembeli pada kabur dan memilih belanja ditempat lain," kata Sauqi.

Sementara, Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Kebersihan, Ali Gofur mengatakan, proses pengangkutan sampah di sejumlah pasar tradisional akan dilakukan pada Selasa (19/7), sore ini. Sebab, selain di Pasar Singaparna, pengangkutan sampah juga harus dilakukan di beberapa pasar tradisional lainnya.

Ali juga mengakui, sampah yang ada di Pasar Tradisional Singaparna belum diangkut sejak Lebaran. Hal tersebut terjadi karena pihaknya fokus mengangkut sampah di jalan protokol. "Tumpukan sampah yang ada di Pasar Singaparna bukan dilupakan, mengingat minimnya sumber daya manusia yang dimiliki, selain itu banyak pegawai yang cuti Lebaran," jelas Ali.

Ali menerangkan, kemungkinan tumpukan sampah di Pasar Tradisional Singaparna sebanyak 8 kubik. Pengangkutan sampah akan dilakukan dua kali sore ini. Besok gunungan sampah sudah tidak ada.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement