Selasa 05 Jul 2016 16:22 WIB

Jeritan Hati Sopir Taksi Saat Lebaran

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Achmad Syalaby
Taksi di Bandara Sukarno Hatta. (Republika/Musiron)
Foto: Republika/ Musiron
Taksi di Bandara Sukarno Hatta. (Republika/Musiron)

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Lebaran tahun ini dirasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya para sopir taksi Bandara Soekarno-Hatta bisa panen pendapatan saat mudik Lebaran, tahun ini tidak demikian.

"Boro-boro bertambah, kalau dipersentase dari awal puasa sampai sekarang, sekarang ini hanya 30 persen saja. Grafiknya terus menurun," ujar Hendro, driver Taksi Silver kepada Republika.co.id, Selasa (5/7).

Hendro juga mengakui bandara sepi saat mendekati Lebaran. Padahal, penumpang biasanya ramai. Hal itulah yang membuat taksi milik perusahaan Blue Bird terdebut harus bekerja 10-11 jam meski waktu normal hanya sampai empat jam. 

Khusus untuk taksi Silver yang pelanggannya kaum elit, kata Hendro, kondisi perekonomian yang tidak stabil juga mempengaruhi pendapatan. Hal itu karena pelanggan mereka biasanya adalah pebisnis dari luar negeri. 

Senada dengan Hendro, Masudi dan Jumroni juga merasakan dampak sepinya bandara. Selain juga karena banyaknya moda transportasi lain yang membuat persaingan semakin ketat."Ini saja sudah dari semalam tadi pagi baru dapat pelanggan. Itu pun argonya hanya Rp 70 ribu. Sampai sekarang belum keluar (bandara) lagi," ujar M. Jumroni, supir taksi Express. 

Jumroni mengaku lebaran kali ini dia tidak mudik karena pendapatannya sedang jatuh. Padahal menurut dia anaknya yang masih kecil berusia lima tahun menanyakan setiap hari kapan keluarganya mudik. Pada tahun-tahun sebelumnya, dia selalu membawa pulang keluarganya ke kampung halaman di Karawang, Jawa Barat.

Masudi, sopir taksi Express menyebutkan, selain sepinya bandara juga karena banyaknya mobil pribadi yang dijadikan sebagai taksi online. Dia yang sudah 20 tahun menjadi sopir taksi itu baru tahun ini mengalami kesulitan.  Pada tahun ini, perusahaannya pun tidak memberikan bingkisan Lebaran dan tunjangan hari raya (THR).

"Kalau tahun lalu masih ada voucher belanja Rp 100 ribu. Sekarang sudah tidak ada lagi sama sekali. THR pun kami tidak menerima," ujar Masudi dan Jumroni kompak saling bersahutan.

Namun kondisi tersebut tidak dialami Hendro. Hendro menceritakan Blue Bird masih memberikan THR dengan istilah insentif hari raya (IHR) dan juga insentif lebaran yang diberikan pascalebaran. Bonus bulanan pun juga masih memungkinkan untuk didapatkan, dengan syarat kerja normal (20 hari kerja). 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement