REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pembangunan sekat kanal untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan diiringi penerapan teknologi tepat guna. Salah satu langkah yang dilakukan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) bersama Badan Restorasi Gambut (BRG) yakni memastikan sekat kanal dibangun sesuai kontur.
"Ini demi mencegah air terkuras dan menjaga kelembaban gambut," kata Direktur Eksekutif APHI Purwadi Suprihanto, Ahad (22/5). Pembangunan sekat kanal juga dilandaskan perspektif bentang alam (landscape).
Upaya tersebut diiringi deteksi dini titik api yang disebut INITIA. Sistem tersebut dikembangkan bekerja sama dengan Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki). Teknologi yang digunakan yakni memanfaatkan pantauan satelit NOAA dan Terra Aqua.
"Setiap hotspot yang muncul akan di overlay dengan konsesi perusahaan anggota APHI," tuturnya. Data tersebut, lanjut dia, kemudian akan dikirim kepada para pemegang izin, terutama penanggung jawab pengendalian kebakaran hutan. Sistem tersebut membuat perusahaan anggota APHI bisa merespons cepat hotspot di lapangan.
Selain itu, APHI sudah meminta seluruh anggotanya peralatan pemadaman kebakaran. Salah satu yang bisa dimanfaatkan adalah berbagai teknologi tepat guna yang dikembangkan di Tanah Air. Di antaranya adalah Sambuponti dan Nyapar, yang dikembangkan praktisi pemadaman di Indonesia.
Penggunaan alat-alat tersebut akan membuat proses pemadaman api lebih efisien dan efektif karena biaya produksinya tidak mahal. Di sisi lain, pengendalian kebakaran hutan menjadi semakin cepat meski dalam areal yang luas.
Sambuponti diciptakan oleh General Manager Fire Protection PT Finantara Intiga, Sambusir. Kunci efektivitas Sambuponti adalah bentuknya yang berupa gabungan dari empat jenis penyemprot sekaligus. Yaitu penyemprot tunggal, spray jauh, spray dekat, dan penyemprot gambut dalam.
Biasanya penyemprot-penyemprot tersebut terpisah-pisah. Berkat bentuknya itu pula, pemadam tak perlu selalu menggenggam Sambuponti. “Alat ini cukup diletakan di titik target untuk selanjutnya diawasi,” kata Sambusir.
Berkat efektivitasnya, pengoperasian Sambuponti tak butuh banyak personil. Untuk selang sepanjang 500 meter, hanya dibutuhkan petugas lima orang saja. Padahal normalnya butuh hingga 15 orang. Rahasia lain efektivitas Sambuponti adalah sistem sambungan antar perangkat yang mudah.
Ia membuat jumlah Sambuponti bisa ditambah sesuai kebutuhan. “Alat ini membuat kita bisa menyergap api jika terjadi kebakaran secara bersamaan. Mulai dari kepala api, badan api, hingga ekor api sekaligus,” kata Sambusir.