Ahad 27 Dec 2015 16:14 WIB

Penumpang Angkutan Terminal Jombor Meningkat 100 Persen

Rep: C97/ Red: Karta Raharja Ucu
 Sebuah bus Trans Jogja berhenti di Halte Ahmad Yani (Benteng Vredeburg), Yogyakarta.
Foto: Antara/Noveradika
Sebuah bus Trans Jogja berhenti di Halte Ahmad Yani (Benteng Vredeburg), Yogyakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Jumlah penumpang angkutan antar kota antar provinsi (AKAP) di Terminal Jombor, Sleman, Yogyakarta meningkat. Bahkan peningkatannya mencapai 100 persen dari jumlah rata-rata harian.

Ketua Paguyuban Agen Bus Malam (Pabima) Terminal Jombor, Sony Kurniawan menyampaikan, peningkatan signifikan terjadi pada tanggal 25, 26, dan 27 Desember. Karena itu, Pabima menambah armada pada tiga hari tersebut.

"Kita keluarkan delapan unit armada tambahan per harinya. Kenaikan jumlah penumpang naik 100 persen," kata Sony kepada Republika.co.id, Ahad (27/12).

Menurutnya semua armada reguler dan tambahan terisi penuh. Meskipun jumlah penumpang tidak menentu, pada hari-hari biasa angkanya hanya di bawah 400 orang. Sementara selama libur natal dan tahun baru ini rata-rata penumpang berjumlah 800 sampai 900 orang per hari. Ia memperkirakan pningkatan penumpang bus akan terus terjadi sampai awal Januari 2016.

Adapun bus reguler yang dioperasikan Pabima di Terminal Jombor selama ini berjumlah 45 unit. Selama libur panjang ini pun tarif tiket bus naik untuk keperluan operasional. Mengingat lalu lintas saat libur padat. Sehingga waktu tempuh lebih lama. Sony mengatakan kenaikan tarif tiket bus AKAP rata-rata 10 persen sampai 15 persen atau 10 sampai 25 ribu.

Salah satu anggota Pabima, Rusli pun membenarkan bahwa semua kursi penumpang bus reguler terisi penuh. Khususnya untuk tujuan Bogor, Depok, Merak, Tangerang, Jakarta, Lampung, Palembang, Jambi dan Denpasar.

Menurutnya puncak peningkatan jumlah penumpang bus terjadi dalam dua gelombang. Pertama, saat libur Natal pada 23 sampai 27 Desember. Kedua saat tahun baru pada 30 Desember hingga 4 Januari 2016. “Keramaian penumpang bus ini cukup panjang. Sebelum libur Natal, sudah liburan sekolah. Setelah itu, lanjut libur tahun baru. Jadi tidak numpuk. Beda dengan libur lebaran,” kata Rusli.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement