Sabtu 24 Oct 2015 00:11 WIB

Indonesia Kembali Minta Bantuan Pesawat pada Kanada dan Prancis

Rep: umi nur fadhilah/ Red: Ani Nursalikah
Petugas Sekretariat Penanganan Pengaduan Kasus Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penjelasan terkait kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (15/9).
Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Petugas Sekretariat Penanganan Pengaduan Kasus Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberikan penjelasan terkait kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (15/9).

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pemerintah Indonesia berencana kembali meminta bantuan dari negara sahabat untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatra dan Kalimantan.

"Saat ini kita sedang berbicara dengan Kanada dan Perancis," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi saat menghadiri Council of Ministers Meeting IORA di Padang, Sumatra Barat, Jumat (23/10).

Pemerintah sudah mengomunikasikan hal tersebut dengan Dubes Kanada di Indonesia serta Dubes Indonesia di Ottawa. Ia menjelaskan upaya bantuan yang diminta pemerintah Indonesia, salah satunya yaitu kiriman pesawat dengan jenis Bombardier.

"Prosesnya sudah jalan. Tapi kembali kita confirm permintaan ini ke mereka," ujarnya.

Retno menuturkan, saat ini sejumlah negara sahabat sudah membantu penanganan memadamkan sejumlah titik api di Sumatra dan Kalimatan, seperti Singapura, Malaysia, Australia dan Rusia. Negara-negara tersebut sudah mengoperasikan pesawat B200.

Menurutnya, bantuan pesawat pembawa air dari negara-negara sahabat, sangat membantu operasi pemadaman titik api yang masih ada.

"Singapura, Malaysia dan Australia sudah menarik diri. Australia juga sedang menghadapi kebakaran hutan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement