Senin 12 Oct 2015 03:24 WIB

Tangani Bencana Asap, BNPB Butuh Tambahan Dana

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Winda Destiana Putri
Sungai Air Sugihan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, Rabu (7/9), tertutup kabut asap.
Foto: Antara
Sungai Air Sugihan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, Rabu (7/9), tertutup kabut asap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski telah menghabiskan 385 miliar rupiah untuk menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih membutuhkan suntikan dana dari pemerintah.

Setidaknya, BNPB masih membutuhkan suntikan dana sebesar 700 miliar rupiah untuk bisa menangani bencana kebakaran hutan dan lahan yang saat ini tengah terjadi di enam provinsi, yang tersebar di Sumatera Selatan dan Kalimantan.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, pihaknya sudah meminta suntikan dana tersebut kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Permintaan tambahan dana ini, ujar Sutopo, sudah disetujui oleh Kemenkeu.

"Kementerian Keuangan juga sudah menyetujui mengenai tambahan dana sejumlah 700 milyar terkait kabut asap dan darurat bencana," kata Sutopo kepada wartawan, Ahad (11/10).

Selama ini, biaya penanggulangan bencana asap dan kebakaran hutan ini memang ditanggung oleh pemerintah pusat. Sutopo pun menyebut, dari 385 milyar rupiah yang telah digunakan, 21 miliar rupiah diantaranya telah digunakan untuk operasional aktivasi posko dan kebutuhan personel.

Permintaan tambahan dana ini pun terkait dengan peningkatan titik api di sejumlah wilaya, terutama di Provinsi Sumatera Selatan, seperti di Ogan Komering Ilir (OKI) dan Musi Banyuasin.

"Yang tadinya hanya berjumlah 100, kini meningkat menjadi 700 titik, dan itu bersumber di OKI dan Banyuasin," lanjut Sutopo.

Sutopo menambahkan, penyebab peningkatan titik api itu adalah adanya bara api yang sudah padam, tapi justru menyala lagi. Pasalnya, sumber titik api tersebut berada di kedalaman lima meter di lahan gambut. Selain itu, banyak titik api yang harus dipadamkan juga menjadi kendala tersendiri dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan.

Sutopo memberi contoh, untuk di Sumatera Selatan saja, setidaknya ada lebih dari 700 titik di satu wilayah. "Bisa dibayangkan, titik api di Provinsi Sumatera Selatan, seperti di Musi Banyuasin saja ada 726 titik, maka sangat sulit melakukan pemadaman di lahan yang mencapai ribuan hektare. Terlebih lahanya yang terbakar dalam kondisi kering dan mengingat lahan tersebut ada di wilayah gambut," ujar Sutopo.

Akibat dari bencana kebakaran hutan dan lahan ini, ujar Sutopo, setidaknya sudah ada sembilan orang yang meninggal akibat terkena paparan asapm baik secara langsung maupun tidak langsung. "Selain itu, sudah ada 40 juta jiwa yang terkena paparan asap," ujar Sutopo.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement