REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Politik UGM Purwo Santoso mengatakan referendum calon tunggal tidak harus sama seperti Pilkada serentak. Penyelenggara referendum harus memperhatikan ancaman dan tantangan baik dari pengusung calon maupun dari masyarakat.
"Hanya saja dalam referendum ini pasti akan ada perlawanan dari pengusung kandidat, bahkan prosesnya bisa direkayasa," ujar dia kepada Republika.co.id, Rabu (30/9).
Menurut dia, bisa saja calon tunggal memobilisasi dukungan. Bahkan mereka bisa mengintimidasi masyarakat untuk memilih YA.
Mereka merasa khawatir dan takut jika tak memilih kandidat akan ada dampak negatif. Namun sepanjang penyelenggara mengantisipasi dominasi para pengusung maka seharusnya intimidasi dapat dihindari.
Namun yang aneh adalah munculnya calon tunggal di beberapa daerah. Ini artinya tidak ada keberanian dari calon lain karena kandidat tunggal sudah terlalu kuat.