Senin 27 Jul 2015 15:58 WIB

Kekeringan Melanda 450 Hektare Sawah di Bali

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Esthi Maharani
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan di Tanah Air.
Foto: Republika/Rakhmawati La'lang/ca
Salah satu kawasan yang dilanda kekeringan di Tanah Air.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana memaparkan setidaknya 450 hektare (ha) lahan sawah di Bali mengalami kekeringan tahun ini. Lahan sawah yang terdampak tersebut mayoritas berada didua kabupaten, yaitu Tabanan dan Jembrana.

"Pemerintah Provinsi Bali sendiri menargetkan luas lahan panen padi hingga akhir 2015 mencapai 150 ribu ha. Sekitar 450 ha tercatat sudah mengalami kekeringan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana kepada Republika, Senin (27/7).

Sebanyak empat subak di Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan dilanda kekeringan, yaitu Subak Meliling (16 ha), Dalem (75 ha), Enggung (51 ha), dan Subak Belumbang (163 ha).

Sebanyak tujuh subak di Kabupaten Jembrana kondisinya juga sama, yaitu Subak Pangkung Liplip, Kaliakah, Tegal Berkis, Peh, Pangkung Buluh, Bayu, dan Sangkar Agung.

Kekeringan yang dialami subak ini rata-rata diakibatkan kecilnya debit air. Oleh sebabnya, pemerintah provinsi dan kabupaten kota membantu dengan membuatkan 68 pompa air dan rehabilitasi saluran irigasi untuk lahan seluas 34.216 ha.

Selain memberika bantuan pompa, pemerintah juga mengimbau petani untuk menerapkan sistem gilir giring. Sistem gilir giring adalah membagi air irigasi secara bergilir, terarah dan terencana di petakan sawah yang ditanamipadi. Ini secara efektif dan efisien akan membagi air ke semua zona dan mencegah areal sawah lainnya mengalami kekeringan.

Sistem ini memanfaatkan sumber air permukaan, seperti sungai, dan pompanisasi. Ini mengurangi dampak musim kemarau di lahan pertanian.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement