Senin 27 Jul 2015 11:11 WIB

Pemprov tak Larang Pendatang Serbu Jakarta, Asal...

Rep: C25/ Red: Karta Raharja Ucu
Arus Balik Pelabuhan Tanjung Priok. Pemudik menunggu bongkar muat sepeda motor mereka dari KM Dobonsolo setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/7).
Foto: Antara/M Agung Rajasa
Arus Balik Pelabuhan Tanjung Priok. Pemudik menunggu bongkar muat sepeda motor mereka dari KM Dobonsolo setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (22/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Gubernur DKI, Djarot Saiful Hidayat mengaku tidak keberatan Jakarta diserbu para pendatang yang hendak mengadu nasib. Syaratnya, para pendatang harus punya tempat tinggal selama mencari kerja di Jakarta.

Sudah menjadi tradisi, pasca-Lebaran arus urbanisasi kencang mengalir ke Jakarta. Biasanya para pendatang diajak saudara atau kenalannya untuk mengadu nasib di Jakarta. Tetapi, kalau pendatang tidak memiliki pekerjaan, belum bisa membuat kartu tanda penduduk (KTP) Jakarta.

Para pendatang baru bisa mendapatkan KTP Jakarta jika sudah memiliki pekerjaan tetap atau bersekolah di Ibu Kota. Meski begitu, Djarot tidak melarang kalau mereka yang datang untuk tinggal di tempat sewa atau kontrak. "Gak apa-apa, yang penting ada tempat tinggal," ujarnya.

Perihal pendataan urbanisasi, Djarot menjelaskan kalau para petugas yang berwenang akan langsung turun ke lapangan, setelah puncak arus mudik. Ia mengatakan pendataan urbanisasi tersebut akan terus-menerus dilakukan oleh sejumlah perangkat, seperti rukun tetangga, rukun warga, lurah hingga dinas kependudukan, bukan hanya pasca-Lebaran saja.

Tentang proses pendataan tersebut, Djarot menerangkan kalau warga akan dilakukan pendataan ulang, apakah mereka datang ke Jakarta sendiri atau membawa teman dan saudara. Akan didata juga tujuan mereka yang datang ke Jakarta pasca Lebaran tersebut, apakah mereka akan berniat datang untuk bekerja, bersekolah atau hanya sekadar transit di Jakarta. "Ini datanya harus komplit dan akurat," jelasnya.

Djarot menambahkan kalau mereka yang datang ke Jakarta sangat bervariasi dan heterogen, dan ada yang memiliki pekerjaan yang tidak terus-menerus di Jakarta, sehingga, tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Namun, Djarot secara tegas menolak mereka yang datang mencari pekerjaan di Jakarta, tapi tidak memiliki tempat tinggal. Sambil bercanda, Djarot mempertanyakan tempat mereka tidur jika mereka tidak punya tempat tinggal. "Kalau ndak punya tempat tinggal dia tidur di mana, apa bawa tenda, kan gak mungkin," katanya mengakhiri.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement