Ahad 26 Jul 2015 06:24 WIB

Pembakaran Masjid di Tolikara, Cipayung Plus Serukan Perdamaian

 Anggota Polres Tolikara memeriksa barang bukti perlengkapan masjid yang terlah terbakar di Polres Tolikara, Papua, Sabtu (25/7).   (Republika/Raisan Al Farisi)
Anggota Polres Tolikara memeriksa barang bukti perlengkapan masjid yang terlah terbakar di Polres Tolikara, Papua, Sabtu (25/7). (Republika/Raisan Al Farisi)

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Sejumlah Lembaga Internal Kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Plus menyerukan untuk menjaga dan memelihara perdamaian di Indonesia pascakasus pembakaran masjid dan toko di Tolikara, Papua yang dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

"Tindakan pembakaran masjid dan toko di Tolikara jelas tindakan tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan oleh siapapun. Persatuan Nasional sebagai dasar kebangsaan kita dalam menjaga harmonis dan tolerasi jelas terusik," kata Ketua PB HMI Arief Rosyid Hasan dalam keterangan persnya di terima di Makassar, Sabtu (25/7).

Surat peryataan Cipayung Plus tersebut ditandatangi M Arief Rosyid Hasan selaku Ketua Umum PB HMI, Lidya Natalia Sartono Ketua Presidium Pusat PMKRI, Twedy Noviady Ginting Ketua Presidium GMNI, Ayub Manuel Pongrekun Ketua Umum GMKI.

Selanjutnya Aminuddin Ma?ruf Ketua Umum PB PMII, Beni Pramula Ketua Umum DPP IMM, Andriyans Ketua Umum KAMMI, Eka Saputra Presidium KMHDI, dan Suparjo Ketua Umum HIKMAHBUDHI. Dalam surat tersebut bertuliskan Segenap warga bangsa harus sepakat untuk mengatakan bahwa tindakan demikian adalah tindakan yang tidak Pancasilais dan tidak menghargai serta menghormati perbedaan.

Menyikapi tindakan tersebut kelompok Cipayung Plus menyatakan sikap sebagai langkah bersama dalam usaha untuk terus menjaga dan memelihara harmonisasi dan toleransi yang selama ini telah terjaga. Solidaritas kebangsaan adalah salah satu mimpi kami sebagaimana termanifestasi dalam kesepakatan kelompok Cipayung, yaitu 'Menuju Indonesia yang Dicita-citakan'.

Berikut beberapa poin sikap Cipayung Plus dalam menyikapi insiden Tolikara yakni pertama, mengecam pelaku penyerangan dan pembakaran yang terjadi di Tolikara pada 17 Juli 2015 dengan mendesak aparat keamanan segara mengusut tuntas kasus ini.

Kedua, mengimbau kepada segenap warga bangsa untuk menahan diri dan tidak mudah terprovokasi agar tidak melakukan aksi dalam bentuk apapun sebagai cara untuk menjaga agar situasi tetap terus terjaga baik dan kondusif.

Ketiga, sebagai anak bangsa dan pewaris kebangsaan Indonesia, mari kita sama-sama terus merajut hubungan persaudaraan kita menjaga perbedaan dan saling mengargai untuk terus hidup bersama sebagai sebuah bangsa yang bersatu.

Keempat, menyerukan kepada para tokoh agama dan masyarakat segera melakukan langkah-langkah konkret dalam mengembalikan situasi kondusif.

Kelima, menyerukan kepada segenap kader organisasi kelompok Cipayung Plus di seluruh Indonesia untuk bahu membahu bersama menjaga dan memelihara rasa persatuan dan semangat kebangsaan Indonesia. Salam solidaritas kebangsaan, jaga persatuan Indonesia.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement