Kamis 16 Jul 2015 14:08 WIB

Belum Ada Penelitian Tentang Fenomena Aneh 'Embun Putih'

Embun (Ilustrasi)
Foto: Wordpress
Embun (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Bupati Lanny Jaya Befa Jigibalom mengharapkan ada penelitian dari para akademisi atau pun pemerhati lingkungan terkait fenomena bencana alam 'embun putih' yang telah merenggut 11 orang di tiga distrik di daerah itu pada awal bulan ini.

"Lanny Jaya terbuka untuk para akademisi, peneliti atau pun pemerhati lingkungan, yang tertarik untuk mengkaji fenomena alam yang tergolong unik ini," kata Bupati Befa Jigibalom saat berada di Kota Jayapura, Papua, Kamis (16/7).

Akibat bencana alam 'embun putih', sebanyak 11 warga di tiga distrik, yakni Distrik Kuyawage, Wano Barat dan Gua Balim tewas mati kedinginan dan kelaparan karena tanaman membusuk.

"Distrik Kuyawage itu sekarang dimekarkan menjadi beberapa distrik, diantaranya Distrik Wano Barat dan Distrik Gua Balim, terus di Wano Barat itu berbatasan dengan Distrik Agandugume, Kabupaten Puncak yang mengalami masalah yang sama," katanya.

Bencana "embun putih" itu, kata Befa, seharusnya terjadi tiap lima tahun sekali di kawasan itu, tapi bencana kali ini terjadi pada tahun kesembilan sejak 2006. "Di kawasan itu, biasanya siklus 5 tahunan memang terjadi bencana atau kekeringan seperti ini. Ini bencana yang unik di seluruh dunia, yang satu-satunya di negara ini. Bencana cukup aneh," katanya.

Jigibalom menyebut bencana embun putih itu terjadi karena sejumlah alasan, diantaranya kini musim kemarau yang panjang dan tidak ada hujan. "Tidak hujan ini, sudah terjadi satu bulan satu minggu yah, untuk kawasan pegunungan itu tidak ada hujan dan langit terang, tidak diselimuti lagi oleh awan, terutama di pegunungan tengah," katanya.

"Saya jelaskan sedikit soal bencana 'embun putih' ini, yaitu warnanya putih, pada malam hari tiga distrik itu akan diselimuti oleh embun putih, di pohon, dirumput dan seluruh daerah itu, bahkan umbi-umbian tanaman yang kena bisa layu dan mati," katanya.

Sementara pada keesokan harinya, pagi hingga siang kala matahari terbit, embun putih itu berubah menjadi semacam cairan minyak yang menempel di seluruh dedaunan, tanaman atau pun pohon.

"Sampai menuju jam jam 12 siang atau 1 siang, maka daun-daun akan layu, busuk dan mati, itu adalah keadaan alam yang unik. Nah, puncak lagi penderitaan rakyat ketika datangnya hujan sekalipun sehari, itu akan membusukkan seluruh tanaman bahkan pohon besar, umbi umbian pun busuk seperti hangus atau busuk, itulah gejala alam bencana embun putih yang terjadi sejak dulu kala," katanya.

Bencana "embun putih" itu, kata Jigibalom, bisa menyebabkan warga di tiga distrik mengungsi ke Balingga, Tiom dan distrik terdekat dengan harapan bisa mendapat perhatian dan bantuan makanan. "Jadi kami di Balingga tidak dapat dan distrik lain tidak, masyarakat biasanya mengungsi kearah perkotaan,Tiom, Balanageri dan kearah Balingga, itulah kondisi apa yang disebut disebut disana," katanya.

Untuk itu, Jigibalom mengharapkan ada peneiliti, akademisi dan pemerhati lingkungan untuk mengkaji dan mencari tahu apakah yang menyebabkan fenomena itu bisa terjadi dan menyebabkan warga tewas.

"Embun putih kalau cair seperti minyak. Kalau kena tanaman atau pohon, daunnya layu dan menguning, buah bisa membusuk. Air sungai juga tercemar, jangan-jangan bisa sebabkan diare, tapi ini perlu penelitian lebih dalam," katanya.

Berita Terkait
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi