Kamis 02 Jul 2015 04:40 WIB

Pesawat Hercules Jatuh, Ini Pendapat Direktur CSIS

Direktur CSIS Rizal Sukma (kanan).
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Direktur CSIS Rizal Sukma (kanan).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Center for Strategic and International Studies (CSIS) Rizal Sukma menilai, kecelakaan pesawat Hercules C-130 merupakan wujud problem struktural yang sudah lama ada terkait alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia.

"Sehingga menurut saya tidak ada pilihan lain bagi sistem alutsista Indonesia selain harus dilakukan peninjauan ulang secara betul," katanya di Jakarta, Rabu (1/7), ketika ditanya mengenai tanggapannya terhadap kecelakaan pesawat Hercules C-130 di Medan, Sumatra Utara, Selasa (30/6) siang.

Untuk menyiasati keterbatasan anggaran pertahanan negara dari segi APBN, Rizal Sukma mengusulkan kepada TNI untuk fokus pada empat area. Fokus pertama yakni membangun kemampuan mobilitas pertahanan di darat, laut, dan udara dengan memprioritaskan pada pengadaan alat-alat transportasi militer.

"Implikasi area ini cukup banyak, seperti untuk mengangkut pasukan dalam sebuah operasi nonmiliter yang sangat tergantung pada kecepatan dan pergerakan pasukan," ucapnya.

Kedua, memperkuat kemampuan pengintaian dan penginderaan karena kaitan yang dimiliki oleh area ini sangat besar terhadap prioritas pemerintah yang lain, seperti masalah pencurian ikan, pelanggaran perbatasan, dan penyelundupan.

Ketiga, fokus pada bidang yang memiliki kaitan dengan operasi bersifat kemanusiaan, seperti bantuan kemanusiaan pascabencana. Keempat, peningkatan peran dan kontribusi TNI pada perdamaian dunia, terutama dalam tugas penjaga perdamaian yang inisiatifnya berada di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Rizal, saat ini jumlah anggota TNI yang terlibat dalam pasukan penjaga perdamaian sebanyak 2.000 orang dan sedang berusaha ditingkatkan menjadi 4.000 orang.

Kapasitas untuk menjaga perdamaian dunia, katanya, penting karena hal tersebut sesuai dengan tuntutan konstitusi, memberi pengalaman bagi anggota TNI yang terlibat, membawa nama Indonesia, dan membantu Indonesia dalam pembangunan industri pertahanan.

"Empat area itulah yang menurut saya harus dijadikan fokus, tidak perlu terlalu jauh, mengingat anggaran pertahanan sekarang juga terbatas, hanya sekitar 8,3 miliar dolar AS," kata Rizal.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement