Kamis 28 May 2015 13:39 WIB

AIPI Ingin Peneliti Indonesia Raih Nobel Perdamaian

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia bertekad mencetak peneliti andal.
Foto: AIPI
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia bertekad mencetak peneliti andal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan otonom Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia atau Indonesian Science Fund (ISF) yang baru diluncurkan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) menargetkan Penghargaan Nobel untuk peneliti Indonesia yang akan dibiayai penelitiannya.

"Kami targetkan punya Nobel dari Indonesia, itu juga tujuannya pembiayaan dana penelitian ini, yakni ada penerima Nobel dari Indonesia dengan catatan penelitiannya harus excellence, bukan prototype," kata Wakil Ketua AIPI Satryo Soemantri Brodjonegoro saat ditemui setelah peluncuran ISF di Jakarta, Rabu (28/5) malam.

Satryo mengatakan dengan adanya pendanaan untuk ilmu pengetahuan, diharapkan para peneliti Indonesia berlomba-lomba membuat penelitian yang bagus dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan Indonesia.

Kendala untuk perkembangan ilmu pengetahuan selama ini, ujar dia, adalah mencari sosok peneliti yang cemerlang di Indonesia. Pendanaan untuk penelitian, ujarnya, dapat menjadi daya tarik untuk mereka pada ranah penelitian Indonesia.

"Dana yang berkesinambungan penting untuk meningkatkan produktivitas nasional untuk ilmu pengetahuan dan teknologi," kata dia.

Sementara untuk target pencapaian Nobel, Satryo mengatakan belum memasang target dalam jangka dekat karena ISF juga baru terbentuk. "Kami kan baru mulai dulu ini, jadi target belum tahu," kata dia.

AIPI meluncurkan Indonesian Science Fund (ISF) yang didukung oleh pemerintah Indonesia, Australia dan AS. ISF merupakan badan otonom yang menyediakan pendanaan kompetitif bagi ilmuwan dan insinyur Indonesia untuk melakukan penelitian kelas dunia serta mendukung daya saing bangsa.

Pembentukan dana nasional pada badan dana nasional yang memberikan hibah kompetitif itu dinilai AIPI merupakan cara paling efektif untuk mendorong terciptanya ilmu pengetahuan dan ilmu rekayasa kelas dunia.

Saat ini, Indonesia baru memberikan kurang dari 0,1 persen Pendapatan Domestik Bruto untuk bidang penelitian dan pengembangan.

Jumlah tersebut hanya sepersepuluh dibandingkan dengan dana yang disediakan negara dengan tingkat ekonomi yang sama seperti India, Brasil, dan Cina.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement