Selasa 26 May 2015 21:41 WIB

Gazebo Bambu dari Klaten Tembus Mancanegara

Gazebo. Ilustrasi
Foto: Antara
Gazebo. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, KLATEN -- Kerajinan ekonomi kreatif gazebo bambu minimalis produksi asal Desa Jambu Kulon Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, mampu menembus pasar di mancanegara.

Gazebo kontruksi dari bambu buatan warga Desa Jambu Kulon Klaten ini, memang sudah mampu menembus ke pasar luar negeri terutama Negara Australia," kata Winarto (40) pengrajin gazebo bambu di Desa Jambu Kulon Klaten, Selasa (26/5).

Winarto yang mengaku mengembangkan bisnis membuat gazebo bambu tersebut dimulai sejak 1998 hingga sekarang. Namun, produksi gazebo bambu baru mampu menembus pasar luar negara terutama Australia pada 2007.

Menurut Winarto, pasar atau permintaan konsumen di Australia tergantung kondisi iklimnya, jika sedang musim dingin atau hujan salju permintaan bisa turun dratis.

"Kami musim dingin sekitar Juli permintaan hampir tidak ada. Namun, konsumen akan mulai menggeliat setelah musim dingin atau pasar ramai antara Agustus hingga Maret tahun depan," katanya.

Menurut dia, permintaan jika sedang ramai seperti sekarang ini, mencapai sekitar 15 hingga 25 unit per bulan, tetapi musim dingin sepi pesanan.

Ia mengatakan, sebuah gazebo produknya ditawarkan dengan harga variasi termurah ukuran satu kali satu meter hanya Rp 1,2 juta, sedangkan ukuran besar dijual antara Rp 750 ribu per meter hingga Rp 800 ribu per meternya.

"Gazebo ukuran besar ditawarkan harga per meter atau tergantung kualitas dan bahan yang digunakan sesuai selera pemesan," kata Winarto.

Menyinggung soal gazebo bambu banyak diminati masyarakat Australia, Winardi menjelaskan bahan baku bambu ini, negara yang ada hanya Indonesia, Filipina, dan Cina, sedangkan Australia tidak.

"Gazebo bambu kami beri warna natural dan konstruksi tradisional, dan ternyata banyak diminati masyarakat luar negeri," katanya.

Menurut dia, pengrajin gazebo bambu tersebut sebelumnya hanya dua orang, tetapi sekarang di desa ini, sudah bertambah hingga tujuh orang. "Kami dibantu lima tenaga kerja mampu memproduksi gazebo bambu sekitar 25 unit per bulan," katanya.

Dia menjelaskan masalah tenaga kerja juga salah satu gendala bagi para pengrajin gazebo bambu, karena sulit mencari tenaga kerja trampil sehingga produksi terbatas.

Selain itu, pihaknya juga terkendala masalah bahan baku bambu jenis betung yang harus mendatangkan dari Ponorogo Jawa Timur, dan harganya juga naik.

"Harga bambu betung ukuran kecil dahulu hanya Rp 4.000 per batang kini sudah naik menjadi Rp 9.000 per batang. Bahkan, harga bambu ukuran besar sudah mencapai Rp 60 ribu per batang," katanya.

Kendati demikian, para pengrajin gazebo bambu tetap bertahan untuk mengembangkan usahanya yang cukup menjanjikan terutama untuk pasar luar negeri. "Kami juga melayani pasar lokal terutama untuk rumah makan pancingan, restoran, cafe, dan lainnya. Pesanan biasanya perorangan dengan partai kecil," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement