REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kesabaran warga Duri Kosambi mencapai puncaknya. Pada Kamis (19/3) pagi sekitar pukul 10.30 sejumlah warga yang kebanyakan berasal dari RW 11 Duri Kosambi menggelar demo dengan memblokir jalur kereta jurusan Tangerang-Duri. Mereka menuntut pemasangan palang pintu perlintasan.
Mengusung sejumlah poster berisi tuntutan, mereka berdiri di atas rel tepat di perlintasan Jalan Duri Kosambi Raya yang hanya berjarak sekitar 300-an meter dari stasiun kereta Rawa Buaya. Akibatnya kereta yang dijadwalkan meninggalkan stasiun Rawa Buaya menuju Duri pada pukul 10.31 tertahan hingga 25 menit.
Warga membubarkan diri setelah Lurah Duri Kosambi Herman menenangkan warganya dibantu pihak kepolisian dan tentara. Mereka bersedia membuka blokir setelah Ketua RW 11 Rohali dan beberapa perwakilan warga dipertemukan dengan kepala stasiun Rawa Buaya Sularto.
Saat ini pertemuan masih berlangsung. Rohali sebelum memasuki ruangan kepala stasiun kepada ROL mengatakan warga menuntut perhatian dari PT Kereta Api.
"Mau berapa banyak lagi korban," kata dia.
Sehari sebelumnya pada Rabu (18/3), dua warga Duri Kosambi yang mengendarai sepeda motor meninggal setelah ditabrak kereta api. Sementara pada Selasa (17/3), sebuah mobil mini bus yang dikendarai perempuan bernama Luciana ringsek akibat ditabrak kereta.
Kecelakaan ini terjadi karena tidak ada palang pintu otomatis yang dipasang di jalan yang sangat padat dilalui kendaraan. Warga yang biasa menjaga dan meminta sumbangan secara sukarela dari kendaraan yang melintas tidak mau lagi mengatur di perlintasan tersebut. Sebab beberapa hari lalu mereka terkena razia premanisme karena dianggap meresahkan. Padahal pengguna kendaraan yang melintasi jalan Duri Kosambi Raya mengaku terbantu dengan kehadiran mereka.