Ahad 22 Feb 2015 20:00 WIB

Sumbar Diminati Investor Asing

Rep: C70/ Red: Satya Festiani
Investasi di Indonesia (Ilustrasi)
Foto: Wihdan Hidayat/Republika
Investasi di Indonesia (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Minat investasi pengusaha asing terhadap Sumatera Barat (Sumbar) menunjukan tren positif.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BKPM dan PPT) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Masrul Zein mengatakan, kondisi tersebut terlihat dari nilai penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang terus mengalami peningkatan.

Data BKPM dan PPT Sumbar, nilai PMA 2014 mencapai angka 29.568 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau mencapai 123 persen di atas target sebesar 24 juta dolar AS. Sedangkan PMDN, realisasi investasi mencapai Rp 1,2 triliun dari target Rp 480 miliar.

"Dari angka-angka itu kita menyatakan minat investor di Sumbar cukup tinggi. Hanya saja jumlah itu tidak dapat dibandingkan dengan daerah lain, sebab minat investor juga dipengaruhi oleh potensi dan bidang yang geluti investor," kata Masrul di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Ahad (22/2).

Ia menjelaskan, seperti misalnya investor di bidang perkebunan, tidak mungkin memburu lahan di Sumbar. Karena kendala utama, ujarnya, Sumbar tidak mempunyai lahan dan lebih berpotensi di Jambi atau Riau.

Dikatakannya, berdasarkan hasil evaluasi BKPM dan PPT, pada 2014, sebanyak 32 orang, mengajukan perizinan sebagai calon investor yang berminat menanamkan modalnya di Sumbar. Jumlah tersebut, kata dia, melebihi target yang hanya 19 calon investor pada 2014.

Dia mengatakan, saat ini, Sumbar memiliki 17 titik potensi panas bumi, lima titik sudah digarap, dua titik siap lelang, sisanya 10 titik masih dalam proses pengamatan untuk diserahkan pengelolaannya kepada investor.

Sementara itu, sebuah perusahaan eksplorasi asal Turki, Hitay Energy, sudah menggarap titik Pincurak, Kabupaten Pasaman Barat dengan potensi 50 MWe, Kotobaru Marapi, Kabupaten Agam dengan potensi 50 MWe, dan titik Panti Kabupaten Pasaman dengan potensi 150 MWe.

"Sekarang justru perusahaan dari Turki ini minta tambah untuk dapat izin eksplorasi sejumlah potensi geothermal lainnya. Tidak hanya Turki, tawaran juga datang dari sejumlah negari, seperti Rusia, Jerman dan Jepang," ungkapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement