Jumat 20 Feb 2015 14:21 WIB

Bandara Buleleng Kemungkinan di Atas Laut

  Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengikuti Rapat Kerja dengan Komite II DPD RI di Gedung DPD Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/12).   (Republika/Agung Supriyanto)
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengikuti Rapat Kerja dengan Komite II DPD RI di Gedung DPD Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (4/12). (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno berpandangan bandar udara yang akan dibangun di Kabupaten Buleleng, Bali, kemungkinan nanti dibuat menjorok ke laut.

"Memang kemungkinannya menjorok ke laut. Sedangkan kalau yang Buleleng Barat terlalu berat karena wilayah pegunungan," katanya usai menemui Gubernur Bali Made Mangku Pastika, di Denpasar, Jumat (20/2).

Menurut Rini, jika pembangunan bandara di kawasan utara Pulau Bali itu dipaksakan di darat, banyak juga areal persawahan yang akan terkena. Pihaknya juga akan meminta Angkasa Pura untuk melihat kondisinya langsung di Kabupaten Buleleng.

Hal senada disampaikan Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan ada dua titik lokasi yang terus digodok kelayakannya yaitu di kawasan Buleleng barat dan Buleleng timur. Hanya saja, sejumlah praktisi memberi masukan bahwa kawasan Buleleng barat sangat riskan karena terkendala gunung.

Sementara untuk alternatif di Buleleng timur juga masih terbentur banyaknya lahan produktif yang nantinya harus dikorbankan.

"Alternatif yang paling memungkinkan adalah pembangunan menjorok ke laut," ucapnya sembari berharap Kementerian BUMN dapat memberi perhatian pada rencana pengembangan bandara baru ini agar segera terealisasi.

Dari beberapa investor yang ingin berinvestasi untuk pembangunan Bandara Buleleng, sebelumnya salah satu konsultan berbendera Airport Kinesis Canada (AKC) sempat memaparkan ingin membangun bandara itu di atas laut.

Shad Serroune, perwakilan AKC sempat memaparkan penyempurnaan konsep pembangunan bandara di kawasan Bali Utara. Dengan mengusung nama Dwijendra International Airport, pihaknya berharap pembangunan bandara ini bertujuan untuk mengatasi kemacetan di wilayah Bali Selatan.

"Pembangunan bandara di atas laut yang rencananya akan menggunakan sistem reklamasi, kami perkirakan membutuhkan 134 juta kubik tanah dengan kedalaman tidak lebih dri 100 meter," ujarnya.

Ia menambahkan, selain membangun bandara, pihaknya juga memberikan penawaran yang lebih, yaitu pembangunan rumah sakit, pusat pendidikan dan pelatihan tentang kedirgantaraan, dan pembangunan serta pengoperasian bandara akan mengusung konsep ramah lingkungan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement