REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA—Kondisi Partai Golkar yang berada di tengah konflik internal disebut-sebut sebagai politik burung unta.
"Burung unta itu merasa sudah tidak ada yang mengejar kalau sudah berhasil menyembunyikan kepalanya di pojok dan matanya sudah tidak melihat ada musuh. Padahal dia saja yang tidak melihat musuh," kata politisi Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari, Senin (22/12).
Lebih detil, ia menjelaskan politik burung unta adalah politik yang dipakai oleh orang yang berpura-pura melihat ada tantangan, ancaman, dan persoalan.
Hal itu, menurut dia, terlihat saat ada kader Golkar yang mengatakan tidak ada konflik dan perpecahan. Namun, kenyataannya ada dinamika internal.
"Lalu, juga ada pernyataan bahwa kondisi Golkar biasa-biasa saja, tetap jalan, tidak ada persoalan, namun yang ada hanya gerakan orang-orang kecewa yang ditunggangi kekuatan eksternal," ujarnya.
Menurut dia, ada juga penyataan kader Golkar bahwa suara Golkar yang disebut Lingkar Survei Indonesia mengalami terjun bebas, merupakan survei yang tidak obyektif.