REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pertemuan Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto secara umum memberikan dampak positif bagi menurunnya suhu politik jelang pelantikan presiden dan wapres, Senin (20/10).
"Pertemuan kedua tokoh tersebut telah mampu menyejukkan, menuduhkan suhu politik yang tidak reda selepas pilpres, 9 Juli 2014," kata pengamat politik LIPI R Siti Zuhro, Sabtu (18/10).
Sebelumnya, Jokowi bertemu dengan Prabowo di kediaman Sumitro Djojohadikusumo, Jalan Kertanegara Nomor 4 Jakarta Selatan, Jumat (17/10).
Pertemuan itu, kata Siti, telah meredakan ketegangan politik antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat.
"Secara luas juga memberikan relief kapada komunitas, organisasi kemasyarakatan (ormas), media, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan profesional," katanya.
Silaturahim itu, katanya, patut diapresiasi. Sehingga, ke depan bisa menjadi teladan positif bagi para politikus yang berlaga. Baik pada pilpres dan wapres mau pun pemilihan kepala daerah untuk tidak melanggengkan rivalitasnya usai pemilu.
"Melalui partai politik, kita bisa mintakan agar institusi partai tidak hanya mencetak politikus saja. Tetapi juga negarawan untuk mengurus negara," katanya.
Artinya, lanjut dia, perlu ada tradisi baru suksesi kepemimpinan nasional agar diikuti oleh nilai positif perilaku para elite yang mencerminkan kematangan dan keteladanan dalam berpolitik.
"Agar ada pembelajaran bagi rakyat dan supaya rakyat mendapatkan manfaat dari pemilu," katanya.




