Selasa 07 Oct 2014 15:47 WIB

Pengamat: Agar Profesional, Kesejahteraan TNI Harus Diperbaiki

Rep: C83/ Red: Bayu Hermawan
Anggota dari TNI AU mengikuti apel kesiapan pasukan TNI terkait pengumuman sidang putusan perselisihan hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden di JIExpo, Jakarta Pusat, Kamis (21/8).(Antara/Vitalis Yogi Trisna)
Anggota dari TNI AU mengikuti apel kesiapan pasukan TNI terkait pengumuman sidang putusan perselisihan hasil pemilihan umum presiden dan wakil presiden di JIExpo, Jakarta Pusat, Kamis (21/8).(Antara/Vitalis Yogi Trisna)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pengamat Militer Universitas Muhammadiyah Malang, Muhadjir Effendy mengatakan yang menjadi acuan dalam mengembangkan TNI yaitu harus memenuhi Minimum Essential Force (Kebutuhan Kekuatan Minimum).

Ia menjelaskan hal tersebut dapat mencakup jumlah personil TNI, luas wilayah yang harus dijaga, Alutsista yang dimiliki dan tingkat kemampuan prajurit terutama dalam menguasai keahlian di bidang militer dan penguasaan strategi.

Menurutnya berdasarkan data dari kementerian pertahanan, pencapaian TNI berdasarkan Minimum Essential Force telah mencapai 50 persen. Namun menurut Rektor UMM ini,  pencapaian TNI baru sekitar 35 persen jika merujuk pada Minimum Essential Force.

Hal tersebut berdasarkan jika melihat perbandingan yang ada saat ini. Baik untuk jumlah personil ataupun anggraan. Ia mengatakan, Untuk anggaran TNI saat ini belum mencapai satu persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal idealnya anggaran yang diperlukan TNI dua persen dari PDB.

"Sedangkan untuk jumlah personil TNI harus dibandingkan dengan  per kapita penduduk Indonesia," ujarnya saat dihubungi Republika, Selasa (7/10).

Ia menambahkan, kesejahteraan prajurit TNI juga harus diperhatikan. Hal tersebut agar  prasyarat profesionalisme TNI menjadi terpenuhi. Saat ini jumlah keseluruhan prajurit TNI yaitu 470 ribu.

Menurutnya untuk jumlah ideal prajurit TNI sekitar satu juta lebih. Adanya rencana penyusutan jumlah prajurit TNI yang direncakan Kementerian Pertahanan harus disertakan dengan pengadaan alutsista dan teknologi yang canggih.

"Rencananya pada 2024 TNI hanya sekitar 300 ribu personil saja, penyusutan ini mungkin dimaksudkan agar kesejahteraan prajurit lebih baik," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement