Senin 11 Aug 2014 17:51 WIB

Kongres AS Lihat Indonesia Partner Kompatibel

Rep: Muhammad Akbar Wijaya / Red: Julkifli Marbun
Pramono Anung
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Pramono Anung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat mengadakan pertemuan tertutup dengan Wakil Ketua DPR, Pramono Anung. Kedua pihak membahas sejumlah agenda penting yang menyangkut urusan pertahanan, ekonomi, dan politik pemerintahan Indonesia mendatang. "Yang dibicarakan berkaitan pertahanan," kata Pramono kepada wartawan usai pertemuan di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (11/8).

Dalam pertemuan itu DPR meminta Amerika Serikat mencabut sanksi embargo sejumlah suku cadang pertahanan keamanan kepada Indonesia. Sebab embargo Amerika membuat Indonesia mengalami kesulitan dalam melakukan penguatan pertahanan. "Indonesia sempat diembargo dan sempat terkendala dengan pembelian pesawat F 16," ujar Pramono.

Di sisi ekonomi, Amerika Serikat sangat memandang penting posisi strategis Indonesia. Indonesia adalah negara demokrasi nomor dua terbesar di dunia setelah Amerika. Indonesia adalah mitra potensial guna menunjang kekuatan ekonomi Amerika di kawasan Asia. Apalagi pada 2015 Indonesia akan masuk dalam Asean Community. "Mereka melihat potensi Indonesia. Diharapkan bisa jadi partner yang kompatibel," kata Pramono.

Politikus PDI Perjuangan ini mengungkapkan, Amerika juga memberi perhatian serius terhadap proses pemilu legislatif dan presiden di Indonesia. Amerika terus memantau perkembangan demi perkembangan yang terjadi di ranah politik Indonesia. Pramono menyatakan Kongres Amerika Serikat berharap pemerintahan baru mendatang bisa meningkatkan hubungan kerjasama kedua negara. "Pilpres mereka sangat memantau," kata Pramono.

Sejumlah anggota Kongres Amerika Serikat yang menemui Pramono adalah senator Rodney Frelinghuysen, Jim Morgan, Kay Granger, dan Ken Calvert. Pramono menampik jika mereka datang hendak mengintervensi proses pembentukan kabinet di pemerintahan mendatang. Menurut Pramono meskipun Indonesia dan Amerika memiliki hubungan yang saling mempengaruhi, namun Amerika tetap menghormati proses politik di Indonesia. "Soal kabinet tidak (dicampuri). Itu kewenangan kita sepenuhnya. Mereka sangat hormati apa yang jadi kewenangan kita," ujar Pramono.

Di waktu yang sama pertemuan tertutup dengan perwakilan Amerika Serikat juga dilakukan jajaran pimpinan MPR. Pertemuan melibatkan dua senator Amerika Serikat John McCain dan Sheldon White House, Duta Besar Amerika Serikat Robert O. Blake, Ketua MPR, Sidharto Danusubroto, juga jajaran Wakil Ketua MPR: Melani Leimena Suharli, Hajriyanto Y. Thohari, Farhan Hamid, dan Achmad Dimyati Natakusumah. Dalam pertemuan itu perwakilan Amerika menyampaikan harapan besar mereka kepada pemerintahan baru Indonesia mendatang. "Berharap Indonesia stabil dan hubungan (Indonesia-Amerika) terawat," kata Sidharto kepada wartawan usai pertemuan.

Politikus PDI Perjuangan ini sampai sekarang Robert O. Blake belum mengucapkan selamat kepada pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang pilpres. Sidharto menduga hal ini karena Amerika masih menghormati proses hukum sengketa hasil pilpres yang berlangsung di Mahkamah Konstitusi. "Dia belum berani (kasih selamat). Kita masih menunggu hasil MK nantinya," ujar Sidharto.

Sementara John Mc Cain mengapresiasi pelaksanaan demokrasi di Indonesia selama pileg dan pilpres 2014. Dia melihat ada peningkatan partisipasi publik yang luar biasa dalam proses rekruitment kepemimpinan nasional. "Ini fenomena baru dalam demokrasi kita. Dia menilai luar biasa, terutama dari pengguna sosial media di atas 60 juta, sampai ada netizen," kata Sidharto.

Selain menyoroti pemilu, para Senator Amerika juga mengingatkan MPR akan bahaya ISIS. Sidharto menyatakan Mc Cain meminta agar Indonesia mewaspadai gerakan ISIS yang saat ini juga mulai menyerang Amerika. "Saya sebutkan kita sendiri menyatakan ISIS gerakan ilegal di Indonesia," ujar Sidharto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement