REPUBLIKA.CO.ID, BANDRLAMPUNG -- Pengetahuan sebagian ayah di Bandarlampung yang mendukung kepedulian terhadap perempuan atau kaum ibu berkaitan dengan gender, kesehatan reproduksi, alat kontrasepsi, dan narkoba masih perlu ditingkatkan, kata aktivis Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Lampung.
"Hambatan utama yang dihadapi dalam sejumlah pelatihan MenCare adalah hal-hal tersebut, sehingga perlu ditingkatkan pengetahuan tentang semua hal itu," kata Koordinator Distrik Program MenCare Bandarlampung dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Lampung Anggalana, di Bandarlampung, Rabu.
PKBI Daerah Lampung kembali mengajak ayah muda atau suami peduli pada pasangannya melalui Program MenCare untuk menekan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melalui pelatihan yang diikuti 24 peserta berasal dari Kelurahan Sumberrejo dan Sumberagung Kota Bandarlampung.
"Setelah melakukan pelatihan fasilitator kelompok remaja Kecamatan Kemiling dalam Program MenCare pada 11--13 April 2014, kami kembali menggelar kegiatan serupa untuk kelompok ayah," ujar dia lagi.
Kegiatan kedua ini dilakukan di aula PKBI Lampung dengan peserta menggunakan modul yang diperoleh Manager Program MenCare Provinsi Lampung Sindung Haryanto dan Koordinator Program MenCare Bandarlampung ketika mengikuti pelatihan di Yogyakarta, ditambah pengalaman melakukan kegiatan pelatihan sebelumnya.
Fasilitator berasal dari PKBI Lampung, antara lain Herdi Mansyah, Enny Nadia Simanjorang, dan Anggalana, dengan didukung Sindung Haryanto, Rahmad Cahya Aji, Dwi Hafsah H, Regina Locita Pratiwi, M Eriyansa Perdana P, M Asep Ahyudin, dan Ali Zulkarnain.
"Penyebab masih kurang pengetahuan itu, dikarenakan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimiliki ayah tidak merata. Ada yang telah mendapatkan pengetahuan tentang materi pelatihan dari media elektronik dan sekolah, tapi terdapat juga beberapa peserta yang tidak aktif dan belum terbiasa dengan kegiatan pelatihan atau diskusi kelompok secara lebih serius," ujar Anggalana pula.
Persoalan kesenjangan pengetahuan diatasi dengan menurunkan level bahasa yang digunakan, sehingga dapat dipahami semua peserta, katanya lagi.
"Semua peserta merasa bahwa pelatihan tersebut sangat berguna, karena memberikan informasi penting yang selama ini mereka tidak ketahui, dan berharap agar ada pelatihan serupa yang diadakan kembali mengingat waktunya dirasa masih kurang," demikian Anggalana.