Jumat 04 Apr 2014 21:00 WIB

Tangis Haru Jumrotun untuk Satinah

Rep: Bowo Pribadi/ Red: A.Syalaby Ichsan
Sulastri, kakak ipar TKI Satinah memperlihatkan foto terkini Satinah yang diabadikan pada awal Februari lalu di penjara kota Buraydah, Arab Saudi, di rumahnya di Desa Kalisidi, Ungaran, Semarang, Jateng, Selasa (25/3).
Foto: Antara
Sulastri, kakak ipar TKI Satinah memperlihatkan foto terkini Satinah yang diabadikan pada awal Februari lalu di penjara kota Buraydah, Arab Saudi, di rumahnya di Desa Kalisidi, Ungaran, Semarang, Jateng, Selasa (25/3).

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kalau ada yang bereaksi secara emosional terkait kabar Satinah bakal lolos dari eksekusi pancung, sejauh ini baru Jumrotun (54), kakak ipar TKW asal kalisidi, Kabupaten Semarang ini.

 

Perempuan paruh baya ini begitu terharu dan menangis bahagia setelah mendengar kabar jaminan pembebasan Satinah setelah diyat sebesar Rp 21 miliar telah dibayarkan Pemerintah RI.

 

Dengan tangis haru, Jumrotun berharap proses pembebasan Satinah ini dapat segera dilaksanakan. Sehingga proses penantian keluarga Satinah yang sudah berjalan hampir delapan tahun dapat berakhir.

 

“Harapannya, yang pasti Satinah bisa cepat pulang dan kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, di Desa Kalisidi, Kecamatan Ungaran Barat,” katanya, Jumat (4/4).

 

Pihak keluarga, tambahnya, sangat bersyukur atas  terbebasnya Satinah dari eksekusi mati di Arab Saudi. Pihak keluarga juga  mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut terlibat dalam upaya ini.

 

Mulai aksi penggalangan dana peduli Satinah, upaya negosiasi hingga kesanggupan Pemerintah RI yang akhirnya mau membayarkan diyat untuk ‘pembebasan’ adiknya tersebut.

 

Kini keluarga satinah mengaku sudah merasa lega, setelah persoalan Satinah ini menemukan titik terang. Iapun berharap Satinah dapat segera kembali dan memulai hidup baru di daerah asalnya sendiri.

 

“Tak perlu mencari nafkah sampai ke luar negeri lagi. Hari  esok –semuanya-- dapat dimulai di kampung halamannya sendiri,” tambahnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement