Jumat 03 Jan 2014 16:16 WIB

Kenaikan Gas 12 Kg Kado Pahit Awal Tahun

Rep: Muhammad Akbar Wijaya/ Red: Karta Raharja Ucu
Pekerja mengangkut tabung 12 kilogram berisi liquefied petroleum gas (LPG atau elpiji).
Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Pekerja mengangkut tabung 12 kilogram berisi liquefied petroleum gas (LPG atau elpiji).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Irman Gusman menyesalkan keputusan Pertamina menaikkan harga gas elpiji tabung 12 Kg secara mendadak.

Menurutnya kenaikan harga gas elpiji merupakan kado pahit awal tahun dari Pertamina untuk masyarakat. "Kenaikan harga elpiji adalah kado terburuk dari Pertamina untuk rakyat Indonesia, sekarang adalah perayaan tahun baru yang penuh kabar gembira bukan kabar kenaikan harga," kata Irman ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Kamis (2/1).

Irman berujar, kenaikan harga gas sebesar 65 persen akan berdampak luas bagi kehidupan ekonomi masyarakat. "Kebijakan ini mempunyai dampak luas terhadap inflasi karena mempunyai implikasi yang luas termasuk kepada industri makanan dan restoran," ujar Irman.

Kenaikan harga gas elpiji terpaksa memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Kalau sudah begini, maka masyarakat ekonomi kecil yang paling dirugikan. "Saya yakin ibu-ibu rumah tangga akan teriak, bahkan pengelola rumah makan juga akan keberatan dengan kenaikan harga elpiji ini," kata Irman.

Kebijakan Pertamina menaikan harga gas elpiji merupakan bukti Pertamina tidak memiliki manajemen tata niaga yang baik. Irman mendesak pemerintah meminta Pertamina menunda kenaikan harga elpiji, hingga masyarakat siap.

Irman menegaskan pemerintah tidak bisa lepas tangan terhadap kebijakan Pertamina. Menurutnya Pertamina sebagai BUMN wajib membela kepentingan masyarakat banyak dan bukan hanya untuk mencari untung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement