REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pedagang kaki lima (PKL) di Pasar Jatinegara mengaku belum mengetahui rencana relokasi.
Hari ini seperti biasa, PKL di Pasar Jatinegara menjajakan barang dagangannya hingga menutup hampir separuh badan jalan. Daman (42), salah satu PKL mengaku tak tahu rencana relokasi tersebut. Pria asli Betawi itu mengatakan, jika memang ada relokasi ia akan mengikuti apapun yang menjadi keputusan pemerintah.
Ia juga menyadari lapak-lapak PKL membuat jalan raya menjadi sempit. "Asal kita disediain tempat untuk jualan lagi aja,” katanya saat berbincang dengan ROL ketika berjualan di Jalan Pintu Pasar Tengah Jatinegara Jakarta Timur, Selasa (2/9).
Hari ini, PKL di Jalan Pintu Pasar Tengah Jatinegara ini begitu banyak. Hampir tidak ada celah antara satu lapak dengan lapak lainnya sepanjang jalan. Tak teratur, penjual pakaian berdampingan dengan penjual buah. Penjual minuman ringan diikuti sebelahnya berjualan bawang dan seterusnya.
Bau menyengat juga tercium di ujung jalan yang berbatasan dengan Pasar Jatinegara bagian utara. Bau ini berasal dari tempat penampungan sampah yang telah disediakan dan dibuang setiap harinya.
Namun, para pedagang menawarkan dagangannya masing-masing dengan tampak bersemangat. "Jeruk Mas, murah," teriak salah satu penjual buah menawarkan dagangannya.
Saat ROL memantau lokasi sekitar pukul 15.10 WIB ada kejadian lucu. Saat itu sebuah mobil pick up melintas di Jalan Pintu Pasar Tengah Jatinegara, kebetulan dari arah berlawanan melintas bajai berwarna biru. Keduanya pun harus berhenti.
Bajai berusaha menepi hingga berdekatan dengan lapak PKL agar mobil pick up tersebut bisa lewat. Secara perlahan, mobil berwarna hitam itu bisa melewati bajaj. Sepeda motor yang melintasi jalan tersebut sempat tersendat.
Johan (35 tahun) pedagang minuman ringan mengatakan, hal seperti itu lumrah terjadi. Sebab, sempitnya jalan mengharuskan kendaraan berjalan pelan-pelan. Apalagi ketika dari arah berlawanan bertemu kendaraan lain.
Diakui Johan, ia pasrah jika relokasi PKL terealisasi. Tetapi, warga Kampung Melayu ini berujar akan terus berjualan. “Kalau gak jualan, anak istri saya makan apa,” tuturnya.