Rabu 22 Aug 2012 14:10 WIB

Buruh Bosan 'Ditipu' Pemerintah

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Djibril Muhammad
Buruh Demo di Mabes Polri
Foto: mgrol6
Buruh Demo di Mabes Polri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Buruh merasa bosan mendengar janji-janji pemerintah, karena hal itu dianggap sebagai tipuan yang melunturkan semangat buruh memperjuangkan haknya. Buruh disarankan untuk langsung menjalankan aksi protes tanpa menghiraukan ajakan berkompromi dan bernegosiasi dengan pihak pemerintah ataupun perusahaan.

"Kita sudah cape bernegosiasi, karena dibohongin terus," jelas Sekretaris Jenderal Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS), Said Iqbal, kepada //Republika//, Rabu (22/8). Said menyatakan buruh sudah pernah dijanjikan rumah susun dan rumah sakit khusus buruh, namun hingga detik ini tidak ada realisasinya.

Penolakan negosiasi dan berkompromi dinilainya penting untuk meningkatkan posisi tawar buruh. Penolakan terhadap itu akan membuat buruh fokus pada perjuangannya. Dia mengatakan jauh lebih baik buruh turun ke jalan menyuarakan aspirasi menghapus outsourcing dan menolak upah murah.

Nasib buruh di Indonesia dinilainya masih sangat menyedihkan. Adanya outsourcing membuat nasib buruh tidak diangkat menjadi karyawan tetap perusahaan. Kemudian tidak pernah memiliki upah yang layak. "Ini yang membuat harga diri buruh selalu jatuh. Buruh harus bangkit menyuarakan aspirasinya. Harus memiliki posisi tawar yang tinggi," imbuhnya.

Pihaknya merencanakan aksi dua juta buruh turun ke jalan pada pertengahan September nanti. Aksi tersebut menurutnya tidak akan dipimpin siapapun. Semua buruh berhak turun untuk memperjuangkan penghapusan outsourcing dan mengharapkan kenaikan upah.

Outsourcing dinilainya sebagai petaka bagi kehidupan buruh. "Sudah 15 tahun kami diperlakukan seperti ini," imbuhnya. Dia mengatakan buruh harus keluar dari petaka ini agar mendapatkan kehidupan lebih baik. "Ayo sama-sama kita turun ke jalan," jelasnya mengajak buruh beraksi pertengahan September nanti.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement