REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Sekitar 139 desa di DIY termasuk dalam kategori ancaman kekeringan tinggi pada musim kemarau tahun ini yang diprediksi berlangsung bulan Juli-Oktober. Sementara itu yang kategori ancaman kekeringan sedang sebanyak 62 desa dan kekeringan rendah sebanyak 236 desa.
''Namun informasi yang kami peroleh musim kemarau tahun ini tidak panjang karena pengaruh El-Nino,''kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY Budi Antono di ruang kerjanya, Kamis (19/7).
Dia menjelaskan Gunungkidul merupakan wilayah yang paling besar potensi terancaman kekeringan paling tinggi, karena secara umum kondisi geografisnya merupakan perbukitan karst .
Di Kabupaten Gunungkidul yang masuk kategori kekeringan tinggi sebanyak 107 desa, sebanyak 36 desa kategori kekeringan sedang dan hanya satu desa yang kategori kekeringan terancam kekeringan sedang dan hanya satu desa yang tidak berpotensi kekeringan.
Menurut dia, yang masuk kategori ancaman kekeringan tinggi karena sumber mata air alami sama sekali mati, sehingga tidak memiliki cadangan air bersih atau air irigasi. Sementara untuk kekeringan sedang desa tersebut masih memiliki sumber air tapi tidak layak konsumsi karena keruh,''jelas Antono.
Selanjutnya di Kabupaten Kulonprogo sebanyak 15 desa terancam kekeringan tinggi, 14 desa kategori terancam kekeringan sedang dan 58 desa teracam kekeringan rendah. Di Kabupaten Bantul ada 11 desa terancam kekeringan tinggi, sembilan desa terancam kekeringan sedang dan 56 desa terkena ancaman kekeringan rendah.
Di Kabupaten Sleman hanya ada enam desa yang terancam kekeringan tinggi, sebanyak enam desa terancam kekeringan sedang dan 77 desa terancam kekeringan rendah. Sementara itu di Kota Yogyakarta sebanyak 45 desa masuk dalam kategori ancaman kekeringan rendah. ''Di kota tidak ada desa yang masuk dalam kategori ancaman kekeringan tinggi maupun sedang,''ungkap dia.
Untuk mengatasi ancaman kekeringan, kata Antono, BPBD DIY telah berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota guna melakukan droping air bersih atau air irigasi. Selain itu, juga akan melakukan pencarian sumber mata air baru serta mengembalikan jaringan air yang terputus akibat erupsi Merapi bagi wilayah Sleman serta melakukan pemeliharaan pada saluran Mataram yang memiliki debit air yang cukup banyak.