REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemilihan pimpinan KPK setelah reses nanti diprediksi untuk suksesi sejumlah Parpol dalam Pemilu 2014 mendatang. Hal ini dinilai penting agar citra politik sejumlah parpol terdongkrak naik sehingga meningkatkan popularitas dan elektabilitas partai.
"Pastinya ada kesepakatan antara calon yang terpilih dengan pihak DPR," jelas Pakar Psikologi Politik UI, Hamdi Muluk, saat dihubungi, Jumat (11/11).
Dia mengatakan hal ini jelas terjadi di mana parpol akan melakukan intervensi terhadap KPK. Ketika para calon pimpinan KPK terpilih maka KPK nantinya akan menjadi alat politik, tidak lagi alat penegakkan hukum untuk memberantas korupsi. "Ini berbahaya bagi masa depan pemberantasan korupsi," jelasnya.
Nantinya, calon terpilih pasti diminta untuk mengamankan atau menghentikan perkara korupsi tertentu agar tidak merusak citra parpol di mata masyarakat. Kemungkinan lainnya, parpol juga nantinya menjadikan alat politik untuk menindak perkara korupsi tertentu, namun mengabaikan perkara korupsi lainnya.
Hamdi mengibaratkan hal ini sebagai sistem gali lubang tutup lubang. Tindak satu atau beberapa kasus korupsi untuk menghancurkan citra parpol tertentu dan menghentikan penyelidikan dan penyidikan kasus korupsi lainnya.
Hamdi menyatakan yang paling terpenting adalah integritas calon pimpinan KPK. Ketika terpilih apakah benar mereka akan menindak kasus korupsi secara komprehensif atau tidak. Jika memang mereka berniat keras memberantas korupsi maka pasti mereka mengabaikan kepentingan-kepentingan DPR. Jika tidak, maka KPK nantinya hanyalah alat kepentingan politik sekelompok orang.