Ahad 12 Dec 2021 12:37 WIB

Pemkot Palu Ajak Perguruan Tinggi Terapkan Pendidikan Mitigasi Bencana

Kota Palu berada di atas sesar Palu Koro yang rawan gempa, tsunami, dan likuefaksi.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Seorang penyintas bencana tsunami bersama anaknya berjalan di depan hunian sementara (Huntara) yang mereka tempati di shelter Lere di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (7/12/2021). Sekitar 100-an kepala keluarga korban bencana tsunami sejak tiga tahun lalu di shelter itu terancam terlantar karena masa pinjam pakai lahan Huntara yang ditempatinya sudah berakhir dan harus dikosongkan dan sementara itu mereka belum mendapatkan hunian tetap (Huntap).
Foto: ANTARA/Basri Marzuki
Seorang penyintas bencana tsunami bersama anaknya berjalan di depan hunian sementara (Huntara) yang mereka tempati di shelter Lere di Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (7/12/2021). Sekitar 100-an kepala keluarga korban bencana tsunami sejak tiga tahun lalu di shelter itu terancam terlantar karena masa pinjam pakai lahan Huntara yang ditempatinya sudah berakhir dan harus dikosongkan dan sementara itu mereka belum mendapatkan hunian tetap (Huntap).

REPUBLIKA.CO.ID, PALU -- Pemerintah Kota (Pemkot) Palu mengajak perguruan tinggi/sekolah tinggi di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) agar mendorong pendidikan mitigasi bencana diintegrasikan dengan kurikulum yang ada. Tujuannya agar masyarakat bisa membangun tatanan kehidupan tangguh terhadap bencana.

"Kita tinggal di atas sesar Palu Koro yang tentunya rawan terhadap bencana alam gempa, tsunami, dan likuefaksi, sehingga kuncinya adalah mitigasi," kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palu, Ansyar Sutiadi saat menghadiri rangkaian kegiatan ulang tahun Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Panca Marga Palu, di Kota Palu, Sulteng, Ahad (11/12).

Baca Juga

Menurut dia, pendidikan mitigasi bencana perlu dimasukkan ke dalam kurikulum semua jenjang pendidikan sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Langkah itu untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus pengingat dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi dan ancaman bencana.

Pasalnya, dengan mitigasi dipercaya dapat meminimalisasidampak ditimbulkan suatu bencana, baik bencana alam maupun bencana non alam seperti yang dihadapi saat ini, pandemi Covid-19. "Sivitas akademika tidak hanya sekadar menerapkan pendidikan mitigasi, tetapi juga mampu menyosialisasikan kepada masyarakat mitigasi itu sendiri, karena perguruan tinggi sering berinteraksi dengan masyarakat luas" kata Ansyar.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu itu menambahkan, berkaca dari pengalaman bencana alam 28 September 2018 yang banyak menelan korban jiwa, tentunya sejak dini sudah harus meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan terhadap potensi serta risiko bencana. Sebab, dengan pengetahuan dan manajemen risiko yang baik, diyakini bisa meminimalisasi dampak yang ditimbulkan dari suatu peristiwa.

"Bencana datang tidak mengenal waktu, dan tidak ada yang bisa memastikan kapan bencana datang. Menghadapi ancaman-ancaman itu tentu masyarakat secara individu sudah harus menyiapkan diri melakukan upaya antisipasi dengan pengetahuan yang dimiliki," kata Ansyar

Dia menambahkan, pendidikan mitigasi sejalan dengan tema pembangunan Pemkot Palu, salah satunya membangun kembali tatanan lingkungan yang aman dan nyaman dengan dukungan infrastruktur berketahanan terhadap bencana. "Sekaligus membangun sumber daya manusia yang tangguh menghadapi perkembangan global serta mampu beradaptasi terhadap bencana alam maupun nonalam," ujar Ansyar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement