REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Eks Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu mengkritik pedas kelompok oligarki, yang telah lama memiliki pengaruh besar terhadap kekuasaan dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia. Didu memandang, bangsa Indonesia sudah lelah menghadapi kelompok yang selama ini mengambil keuntungan dari sumber daya negara.
"Bangsa ini sudah capek menghadapi mereka yang tidak tahu diri sama sekali," kata Didu dalam Aksi Rakyat Bela Indonesia yang berlangsung di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, pada Ahad (8/11/2026).
Dia menuding, kelompok oligarki tersebut mulai memperkuat pengaruhnya sejak 2014 dengan menempatkan orang-orang yang disebutnya sebagai boneka di lingkaran kekuasaan. Didu mengamati, pengaruh kelompok tersebut tidak hanya berada di sektor kehutanan dan pertambangan, tetapi merambah kawasan perkotaan, termasuk kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) dan Bumi Serpong Damai (BSD).
Dia kemudian membandingkan, pemerintahan sebelumnya dengan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Didu menilai, baru pada era Prabowo ada keberanian untuk menyentuh kepentingan kelompok oligarki yang selama ini dianggapnya sulit dijangkau. "Baru datang Prabowo berani menyentuh mereka. Hidup Prabowo!" ujar Didu.
Oleh karena itu, ia menyerukan, agar Presiden Prabowo melanjutkan upaya pengembalian hasil-hasil kekayaan negara kepada negara. "Bapak Presiden Prabowo lanjutkan. Rebut semua hasil-hasil negara, kembalikan ke negara," ucapnya.




