Selasa 03 Nov 2026 09:33 WIB

Negara-Negara Arab dengan Utang Tertinggi dan Risiko Gagal Bayar

Negara Arab kaya minyak juga tak luput dari utang.

Seiring dengan eksplorasi minyak di Arab Saudi, kawasan Al Balad mulai ditinggal warga Jeddah untuk tinggal ke kawasan utara Jeddah.
Foto: Darmawan/Republika
Seiring dengan eksplorasi minyak di Arab Saudi, kawasan Al Balad mulai ditinggal warga Jeddah untuk tinggal ke kawasan utara Jeddah.

 JAKARTA— Utang publik di negara-negara Arab kini bukan lagi sekadar indikator keuangan. Lebih dari itu, utang telah menjadi faktor yang memengaruhi pembiayaan sektor kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial, sekaligus menentukan kemampuan pemerintah dalam menghadapi krisis ekonomi maupun geopolitik.

Di tengah perbedaan tingkat utang antarnegara, berbagai tantangan muncul secara bersamaan, mulai dari meningkatnya biaya pinjaman, lemahnya pertumbuhan ekonomi, hingga semakin besarnya kebutuhan sosial masyarakat.

Baca Juga

Kondisi ini menunjukkan pentingnya membedakan utang yang digunakan untuk membiayai investasi dan meningkatkan produktivitas dengan pinjaman yang hanya digunakan untuk menutup defisit berulang tanpa memperluas basis penerimaan negara.

Dampak akhir dari utang sangat ditentukan oleh struktur dan biaya pelunasannya, serta manfaat ekonomi dan sosial yang dihasilkan dari dana pinjaman tersebut.

Muhammad Al-Syekir, pakar analisis kebijakan ekonomi dan keuangan sekaligus Ketua Pusat Studi dan Penelitian Aziz Bilal, mengatakan kepada Aljazeera, dikutip Selasa (3/11/2026), bahwa negara-negara Arab bukanlah satu kelompok ekonomi yang homogen.

Hal ini terlihat dari perbedaan sumber daya keuangan, kapasitas produksi, dan tingkat utang masing-masing negara.

Menurut Al-Syekir, terdapat negara dengan sumber daya melimpah dan tingkat utang relatif terbatas. Namun, ada pula negara yang menghadapi tekanan jauh lebih kompleks akibat lemahnya pendapatan negara serta tingginya kebutuhan pembiayaan dan sosial.

Amin Sami, pakar sekaligus konsultan internasional di bidang ekonomi, perencanaan strategis, dan kepemimpinan perubahan, menjelaskan bahwa krisis utang global memiliki dampak yang tidak merata.

Negara-negara yang memiliki pasar keuangan kuat dan sumber pendapatan stabil dapat memperoleh pinjaman dengan persyaratan yang berbeda dibandingkan negara-negara dengan sumber daya terbatas.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi