TEHERAN -- Iran menolak proposal dari Qatar selaku mediator dalam upaya terbaru mengakhiri perang. Iran menilai proposal dari Qatar "tidak bisa diterima".
Qatar mempresentasikan draf proposal perdamaian kepada tim negosiator Iran pada Ahad (25/10/2026). Namun demikian, seorang pejabat senior Iran kepada Reuters dilansir Middle East Eye, mengatakan Iran tidak bisa menerima atas apa yang dipresentasikan Qatar, sembari menambahkan bahwa Teheran tidak akan menunjukkan sikap fleksibilitas terkait isu nuklir.
Wakil Presiden AS JD Vance pada awal bulan ini mengatakan, Iran harus mengurangi pengayaan uranium untuk mengakhiri perang. Adapun, Republik Islam Iran berulang kali menyatakan bahwa program nuklir mereka hanya untuk penggunaan non-militer di dalam negeri.
Draf proposal perdamaian terbaru yang tengah dipertimbangkan oleh Iran menetapkan sebuah tujuh-hari linimasa terkait hal-hal yang menjadi perhatian Teheran dan Washington, meletakkan langkah-langkah membangun rasa saling percaya yang harus diambil oleh kedua pihak setiap harinya. Linimasa itu bisa dimulai paling cepat awal pekan depan, dan beberapa negara akan menjadi penjamin jika kesepakatan tercapai.
Qatar, bersama Pakistan, telah memimpin proses mediasi untuk mengakhiri perang yang dilancarkan oleh AS-Israel pada Februari 2026. Perang telah mendisrupsi pengiriman dan pasokan minyak global dan konflik menyebar ke sebagian wilayah Timur Tengah lain.
Seorang pejabat yang menjadi sumber dalam laporan Reuters, mengatakan, terdapat kekhawatiran selama pertemuan antara mediator dan Iran pada Ahad lalu, bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bisa saja melanjutkan serangan ke Iran di saat dirinya tengah berjuang dalam pemilu untuk tetap berkuasa di Israel. Sebelumnya pada Jumat pekan lalu, Presiden AS Donald Trump pun mengulang-ulang ancamannya untuk menyerang Iran lagi.




