Selasa 27 Oct 2026 08:53 WIB

BNPB Kerahkan 14 Ton Bahan Semai Atasi Karhutla

BNPB lakukan modifikasi cuaca guna percepat pemadaman kebakaran hutan di daerah.

Prajurit TNI AU menunjukkan dry ice atau es kering sebagai bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di dalam pesawat Cassa C-212 milik Skadron IV Wing Udara 1.2 Grup 1 Angkut Lanud Abdulrachman Saleh di Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH), Palembang, Sumatera Selatan, Senin (19/10/2026). Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI menggelar OMC menggunakan es kering untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer guna mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Prajurit TNI AU menunjukkan dry ice atau es kering sebagai bahan semai untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di dalam pesawat Cassa C-212 milik Skadron IV Wing Udara 1.2 Grup 1 Angkut Lanud Abdulrachman Saleh di Base Ops Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH), Palembang, Sumatera Selatan, Senin (19/10/2026). Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI menggelar OMC menggunakan es kering untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer guna mengurangi konsentrasi asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan.

JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana menghabiskan total 14,3 ton bahan semai melalui operasi modifikasi cuaca. Langkah ini dilakukan untuk memperbesar potensi hujan dan mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah prioritas.

"Penyemaian tersebut dilakukan dalam 15 kali penerbangan atau sortie berdasarkan pemantauan data pelaksanaan pada 23 Oktober 2026," kata Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan dalam keterangan yang diterima di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/10/2026).

Baca Juga

Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah menghabiskan 7.200 kilogram bahan semai. Bahan tersebut terdiri atas 5.200 kilogram dry ice untuk mengurai kabut asap dan 2.000 kilogram natrium klorida melalui delapan sortie penerbangan untuk hujan buatan.

Meski demikian, menurut Berton, hingga laporan per 23 Oktober, belum terdapat laporan turunnya hujan di wilayah sasaran tersebut. Kondisi cuaca di lapangan terus dipantau secara berkala oleh tim yang bertugas.

Sementara itu, ia menambahkan bahwa di Sumatera Selatan, operasi modifikasi cuaca dilakukan melalui tujuh sortie dengan menghabiskan 7.100 kilogram bahan semai. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, operasi ini berhasil memperbaiki tingkat jarak pandang menjadi lebih baik menjelang siang hari.

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mengonfirmasi, selain kedua wilayah tersebut, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca yang disesuaikan dengan dinamika atmosfer turut membuahkan hasil positif. Upaya ini melibatkan koordinasi lintas sektor untuk memaksimalkan hasil di lapangan.

Dalam hal ini, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di tujuh kabupaten di Kalimantan Barat, termasuk wilayah sasaran di Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Kondisi serupa juga terpantau di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Adapun berdasarkan pemutakhiran data BNPB per Ahad (25/10/2026), total luas lahan yang masih dalam penanganan akibat karhutla tercatat seluas 3.392 hektare di Pulau Kalimantan. Rinciannya meliputi Kalimantan Tengah seluas 2.458 hektare, Kalimantan Barat 884 hektare, dan Kalimantan Selatan 52 hektare.

Sementara di Pulau Sumatera, luas lahan dalam penanganan mencapai sekitar 990 hektare. Wilayah tersebut meliputi Sumatera Selatan seluas 889 hektare, Jambi 89 hektare, serta Lampung di kawasan Taman Nasional Way Kambas seluas 12 hektare.

Untuk mengoptimalkan penanganan darurat di lapangan, pemerintah menyiagakan sebanyak 57.050 personel satuan tugas penyiraman darat di enam provinsi. Personel tersebut didukung oleh pengerahan total 61 unit armada udara yang terdiri atas 24 unit pesawat patroli, CASA, dan operasi modifikasi cuaca, serta 37 unit helikopter water bombing berdasarkan data pemutakhiran 26 Oktober 2026.

Pemadaman ini didukung berbagai peralatan pendukung guna memastikan efektivitas penanganan darurat di lokasi terdampak. Peralatan tersebut meliputi selang pemadam, selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, dan radio komunikasi, ujar Berton.

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi