Sabtu 24 Oct 2026 12:02 WIB

DDII dan UIKA Bogor Jajaki Kerja Sama Pendidikan dengan Malaysia

Program beasiswa dan pertukaran mahasiswa turut dibahas.

Pertemuan delegasi DDII dan UIKA Bogor dengan Menteri Hal Ehwal Agama Malaysia Zulkifli bin Hasan untuk membahas peluang kerja sama pendidikan kedua negara.
Foto: Istimewa
Pertemuan delegasi DDII dan UIKA Bogor dengan Menteri Hal Ehwal Agama Malaysia Zulkifli bin Hasan untuk membahas peluang kerja sama pendidikan kedua negara.

JAKARTA – Peluang kerja sama pendidikan tinggi antara Indonesia dan Malaysia semakin terbuka, terutama pada bidang ekonomi syariah, manajemen haji dan umrah, serta kesehatan. Penjajakan kerja sama tersebut mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum, program beasiswa, hingga pembelajaran lintas negara.

Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan delegasi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor dengan Menteri di Jabatan Perdana Menteri (Hal Ehwal Agama) Malaysia, Zulkifli bin Hasan. Pertemuan itu membahas pengembangan sumber daya manusia dan perluasan akses pendidikan melalui kolaborasi lembaga pendidikan Islam kedua negara.

Baca Juga

Ketua DDII Fathurrahman Mahfudz mengatakan, kerja sama pendidikan menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan melalui hubungan Indonesia dan Malaysia. Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya mencakup pendidikan keislaman, tetapi juga bidang akademik yang berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Pertemuan tersebut turut membahas peluang memperkuat kerjasama Malindo, khususnya antara DDII dan institusi-institusi pendidikan Islam di Malaysia. Hubungan ini memiliki akar historis yang erat dengan perjuangan dakwah dan pemikiran Mohammad Natsir, tokoh Islam Indonesia yang memiliki pengaruh penting dalam perkembangan dakwah dan hubungan umat Islam di kawasan Asia Tenggara,” kata Fathurrahman, berdasarkan siaran pers yang diterima pada Sabtu (24/10/2026).

Salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut adalah peluang kerja sama antara lembaga pendidikan diploma hingga perguruan tinggi di bawah lingkup Hal Ehwal Agama Malaysia dengan UIKA Bogor. Kerja sama berpotensi dikembangkan melalui pembelajaran hybrid yang memadukan pertemuan tatap muka dan pembelajaran daring.

Model tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan mahasiswa mengikuti program pendidikan lintas negara. Selain itu, pengembangan kurikulum dan pertukaran akademik menjadi pilihan untuk meningkatkan kompetensi lulusan.

Rektor UIKA Bogor HE Mujahidin mengatakan, Fakultas Agama Islam memiliki sejumlah program studi yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama internasional. Dua bidang yang menjadi fokus pembahasan adalah ekonomi syariah serta manajemen haji dan umrah.

“Kedua bidang tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pertukaran akademik, penguatan kurikulum, pengembangan kompetensi, dan program pendidikan Bersama,” ujar Mujahidin.

Selain pendidikan keislaman, kedua pihak menjajaki kerja sama di bidang keperawatan dan farmasi. Kolaborasi tersebut berpotensi mencakup pengembangan kapasitas akademik, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta peningkatan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Fathurrahman mengatakan, pengembangan pendidikan manajemen haji dan umrah juga menjadi salah satu pembahasan. Kerja sama pada bidang tersebut berpeluang melibatkan lembaga yang berkaitan dengan penyelenggaraan perjalanan ibadah di Malaysia.

“Pada bidang pengajian Islam, turut dibahas peluang kerja sama terkait manajemen haji dan umrah dengan melibatkan Tabung Haji serta Kementerian Pelancongan Malaysia,” ujarnya.

Menurut Fathurrahman, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan profesional yang menggabungkan pemahaman keislaman, pengelolaan layanan, serta tata kelola perjalanan ibadah. Pengembangan kompetensi diharapkan dapat mendukung kebutuhan tenaga profesional pada sektor terkait.

Pertemuan itu juga membahas peluang pengembangan jejaring akademik dengan International Islamic University Malaysia (IIUM/UIA). Perguruan tinggi tersebut telah memiliki kerja sama dengan Ibn Khaldun University Turkiye (IHU), sehingga terdapat peluang memperluas hubungan akademik antarlembaga pendidikan Islam.

Dari sisi akses pendidikan, kedua pihak membahas tawaran beasiswa bagi pelajar berprestasi dari lingkungan DDII. Kesempatan studi lanjut juga dijajaki bagi lulusan terbaik UIKA Bogor untuk melanjutkan pendidikan melalui jejaring lembaga pendidikan di Malaysia.

Dalam pertemuan tersebut, Fathurrahman turut memperkenalkan kepengurusan baru DDII beserta sejumlah program prioritas organisasi. Kehadiran pimpinan UIKA Bogor juga menjadi upaya memperluas hubungan antara lembaga dakwah dan perguruan tinggi kedua negara.

Sementara itu, Zulkifli berharap DDII terus mengembangkan kontribusinya dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Ia menyampaikan pesan agar kegiatan dakwah memiliki landasan spiritual yang kuat sekaligus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.

UIKA Bogor sendiri didirikan pada 1961 oleh KH Sholeh Iskandar bersama sejumlah ulama dan tokoh Masyumi, dengan dukungan Mohammad Natsir. Sejak berdiri, perguruan tinggi tersebut mengembangkan pendidikan yang memadukan nilai keislaman, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Adapun pembahasan kerja sama pendidikan Indonesia-Malaysia tersebut masih berada pada tahap penjajakan. Kedua pihak diharapkan dapat menindaklanjutinya melalui program bersama dengan sasaran, tahapan pelaksanaan, dan manfaat yang terukur.

Berita Lainnya

Rekomendasi