Jumat 23 Oct 2026 17:32 WIB

Prodi Manajemen UBSI Perkuat Kurikulum Hadapi Dunia Kerja

Evaluasi kurikulum libatkan pakar UNAIR demi tingkatkan daya saing lulusan.

Kurikulum perlu memastikan bahwa kompetensi yang dipelajari mahasiswa benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Foto: dok UBSI
Kurikulum perlu memastikan bahwa kompetensi yang dipelajari mahasiswa benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

JAKARTA — Kurikulum perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang berjalan dinamis. Lebih dari itu, kurikulum perlu memastikan bahwa kompetensi yang dipelajari mahasiswa benar-benar relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Hal inilah yang menjadi perhatian Program Studi (Prodi) Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Perguruan tinggi ini menggelar kegiatan Review Kurikulum pada Rabu (21/10/2026) di UBSI Kampus Kramat 98, Jakarta.

Baca Juga

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Prodi Manajemen UBSI dalam mengevaluasi dan menyempurnakan kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan keilmuan, teknologi, serta dinamika dunia kerja. Review tersebut diikuti oleh jajaran dosen yang tergabung dalam Unit Pengembangan Akademik serta pengurus program studi.

Hadir sebagai narasumber, Dr. Dien Mardhiyah dari Departemen Manajemen FEB Universitas Airlangga (UNAIR). Dr. Dien membagikan perspektif akademik dan praktik baik dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi yang berkualitas.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Program Studi (Kaprodi) Manajemen UBSI, Dr. Eka Dyah Setyaningsih. Kehadiran para pimpinan prodi ini menunjukkan komitmen institusi dalam menjaga mutu pendidikan secara berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Dr. Dien menjelaskan bahwa kurikulum mencakup lebih dari sekadar daftar mata kuliah. Di dalamnya terdapat tujuan pembelajaran, bahan kajian, strategi pembelajaran, asesmen, hingga evaluasi yang saling terhubung untuk memastikan capaian kompetensi lulusan.

“Karena itu evaluasi kurikulum perlu dilakukan secara sistematis dengan mempertimbangkan berbagai masukan, mulai dari pengguna lulusan, alumni, hasil tracer study, perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan pendidikan tinggi, hingga perubahan kompetensi yang dibutuhkan dunia usaha dan industri,” ujar Dr. Dien, Jumat (23/10/2026).

Pembahasan dalam acara tersebut juga menyoroti pentingnya penyelarasan profil lulusan dengan Program Learning Outcomes (PLO) atau Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL). Penyusunannya perlu mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), Standar Nasional Pendidikan Tinggi, visi dan misi institusi, serta masukan para pemangku kepentingan.

Keterhubungan antara profil lulusan, CPL, bahan kajian, dan mata kuliah menjadi perhatian penting dalam proses perbaikan ini. Dengan pemetaan yang jelas, setiap mata kuliah diharapkan memiliki kontribusi terukur terhadap kompetensi yang perlu dikuasai mahasiswa.

Sementara itu, Dr. Eka menjelaskan bahwa selain struktur kurikulum, review juga membahas penerapan metode pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Beberapa pendekatan yang menjadi perhatian meliputi case-based learning, project-based learning, dan role play.

“Melalui pembelajaran berbasis kasus, mahasiswa dapat berlatih menganalisis persoalan bisnis dan menyusun alternatif penyelesaian. Sementara itu, pembelajaran berbasis proyek mendorong mahasiswa mengembangkan kemampuan perencanaan hingga menghasilkan karya. Adapun role play dapat digunakan untuk melatih komunikasi, negosiasi, dan pengambilan keputusan,” ujar Dr. Eka.

Penerapan metode tersebut tentu perlu didukung oleh sistem asesmen yang selaras dengan CPL dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Bentuk penilaiannya dapat berupa ujian, esai, laporan, presentasi, maupun proyek, sesuai dengan kompetensi yang hendak diukur.

“Aspek lain yang dibahas ialah kelengkapan dokumen redesain kurikulum. Dokumen tersebut perlu mencakup evaluasi kurikulum sebelumnya, hasil tracer study, analisis kebutuhan pemangku kepentingan, landasan akademik, profil lulusan, CPL, bahan kajian, struktur dan deskripsi mata kuliah, strategi pembelajaran, asesmen, serta mekanisme evaluasi,” jelasnya.

Rencana Pembelajaran Semester (RPS) juga perlu memperlihatkan keterkaitan antara CPL, CPMK, dan Sub-CPMK secara komprehensif. Selain itu, RPS harus memuat metode pembelajaran, pengalaman belajar mahasiswa, indikator pencapaian, kriteria penilaian, bobot nilai, dan referensi yang mendukung proses pembelajaran.

Sesi diskusi interaktif membuka ruang bagi para dosen dan peserta untuk menyampaikan pertanyaan, pandangan, serta masukan kepada narasumber. Berbagai hal mendalam dibahas untuk memastikan kurikulum yang dirancang benar-benar aplikatif.

Sejumlah hal yang dibahas meliputi penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri, pemetaan CPL terhadap mata kuliah, penerapan pembelajaran berbasis kasus dan proyek, serta evaluasi mutu kurikulum secara berkelanjutan. Masukan konstruktif tersebut menjadi bahan pertimbangan utama dalam penyempurnaan kurikulum Prodi Manajemen UBSI.

Tindak lanjut yang direncanakan mencakup evaluasi struktur kurikulum, pemetaan CPL, peninjauan bahan kajian, penyempurnaan RPS, serta penguatan metode pembelajaran dan sistem asesmen. Langkah-langkah ini diambil demi mewujudkan standar pendidikan yang prima.

Melalui kegiatan ini, UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif menegaskan komitmennya untuk menjaga mutu akademik melalui kolaborasi antarperguruan tinggi. Institusi juga terus berupaya memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan kebutuhan profesional di lapangan.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung lahirnya lulusan yang tidak hanya memahami konsep manajemen, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan secara nyata. Para lulusan juga dipersiapkan agar mampu beradaptasi dengan perubahan, menjunjung tinggi integritas, serta menghadapi tantangan dunia bisnis modern.

Berita Lainnya

Rekomendasi