Jumat 23 Oct 2026 08:30 WIB

Kampus Perlu Siapkan Mahasiswa Hadapi AI dan Ekonomi Digital

Kesiapan lulusan ditentukan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Satria K Yudha
Anggota Komisi X DPR RI Adela Kanasya Adies mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dan menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan teknologi.
Foto: Istimewa
Anggota Komisi X DPR RI Adela Kanasya Adies mendorong perguruan tinggi memperkuat kolaborasi dan menyiapkan mahasiswa menghadapi perubahan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan teknologi, otomatisasi, ekonomi hijau, dan ekonomi digital menuntut perguruan tinggi menyiapkan mahasiswa dengan keterampilan yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan masyarakat dinilai perlu diperkuat agar pendidikan tinggi tidak berhenti pada pencapaian akademik.

Anggota Komisi X DPR RI Adela Kanasya Adies mengatakan, tantangan pendidikan tinggi saat ini bukan hanya memperluas akses kuliah. Perguruan tinggi juga perlu memastikan mahasiswa memiliki kapasitas menghadapi perubahan yang berlangsung cepat, termasuk perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Baca Juga

“Dunia yang akan dihadapi mahasiswa hari ini berubah jauh lebih cepat daripada kurikulum yang kita ajarkan kepada mereka. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak anak Indonesia yang bisa kuliah, tetapi setelah mereka kuliah, apakah mereka siap menghadapi dunia yang baru?” kata Adela dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).

Menurut Adela, ijazah tetap penting, tetapi mahasiswa juga membutuhkan keterampilan, pengalaman, jejaring, kemampuan berpikir kritis, serta karakter untuk bersaing. Perguruan tinggi karena itu perlu memperluas pembelajaran yang terhubung dengan persoalan nyata.

Adela juga meminta mahasiswa tidak melihat AI semata sebagai ancaman. Generasi muda, menurut dia, perlu mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan berpikir, integritas, empati, dan nilai kemanusiaan.

“AI tidak akan menggantikan semua manusia. Tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dengan baik akan memiliki keunggulan dibandingkan manusia yang tidak mau belajar menggunakannya,” ujar Adela.

Selain penguasaan teknologi, Adela menilai hubungan perguruan tinggi dengan dunia industri perlu diperkuat. Bentuknya dapat melalui riset kolaboratif, magang berbasis persoalan nyata, inkubasi perusahaan rintisan mahasiswa, kerja sama dengan UMKM, hingga hilirisasi hasil penelitian.

Menurut dia, mahasiswa juga perlu mengubah pola pikir dari sekadar mencari pekerjaan menjadi mampu menciptakan peluang ekonomi dan lapangan kerja. Kemampuan riset, inovasi, dan kewirausahaan dinilai semakin relevan di tengah perubahan struktur pekerjaan.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan job seeker, tetapi juga job creator, entrepreneur, researcher, innovator dan technopreneur,” ucap Adela.

Kemampuan perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum, memperkuat pengalaman praktis, dan memperluas kolaborasi dengan industri akan menentukan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja. Tantangannya bukan hanya mengenalkan teknologi baru kepada mahasiswa, tetapi juga memastikan mereka mampu memanfaatkannya secara produktif dan bertanggung jawab.

Berita Lainnya

Rekomendasi