Kamis 22 Oct 2026 19:06 WIB

Kemenkes Catat 333.470 Kasus ISPA Akibat Asap Karhutla

Korban tercatat di di tujuh provinsi atau 68 kabupaten/kota.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Fitriyan Zamzami
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026).
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Seorang anak yang mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mendapatkan perawatan dengan nebulizer di Posko Kesehatan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (15/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia menyebabkan kualitas udara memburuk. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) per Kamis (22/10/2026) pukul 08.40 WIB, terdapat 16 wilayah dengan kualitas udara berbahaya dan tujuh wilayah sangat tidak sehat di tujuh provinsi terdampak karhutla.  

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, mengatakan terdapat tujuh provinsi yang kualitas udaranya memburuk akibat terdampak karhutla. Tujuh provinsi itu tersebar di pulau Kalimantan dan Sumatra, yaitu Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Riau. 

Baca Juga

"Tentunya risiko kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan ini perlu kita antisipasi. Kebakaran hutan dan lahan tentunya mengandung partikel halus yaitu PM2.5, karbon monoksida maupun nitrogen dioksida, dan senyawa organik lainnya, yang tentunya dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan," kata dia saat konferensi pers secara daring, Kamis sore. 

Dari data Kemenkes, wilayah dengan kualitas udara berbahaya di Kalimantan Tengah meliputi Kota Palangka Raya, Kabupaten Murung Raya, Barito Selatan, Katingan, Gunung Mas, Kapuas, dan Kotawaringin Timur. Sementara di Sumatra Selatan, wilayah yang memiliki kualitas udara berbahaya berada di Kota Palembang, Prabumulih, dan Kabupaten Pali. 

Wilayah lain yang memiliki kualitas udara berbahaya adalah Kabupaten Muaro Jambi dan Tebo di Jambi, Kota Banjarmasin dan Kabupaten Tabalong di Kalimantan Selatan, Kabupaten Kutai Barat di Kalimantan Timur, serta Kota Pontianak di Kalimantan Barat. 

Sementara itu, wilayah dengan kualitas udara sangat tidak sehat adalah Kabupaten Ogan Ilir di Sumatra Selatan, Kabupaten Tanjung Jabung Timur di Jambi, Kabupaten Barito Kuala di Kalimantan Selatan, serta Kabupaten Siak, Indragiri Hilir, Pelalawan, dan Bengkalis di Riau. 

photo
Pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat asap karhutla menjalani perawatan di Puskesmas Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (1/9/2026). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Then menyebutkan, buruknya kualitas udara itu sangat berpotensi menimbulkan penyakit di masyarakat. Beberapa penyakit yang bisa muncul antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, penyakit paru dan obstruktif kronis (PPOK), gangguan mata dan kulit, serta dampak sistemik meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, termasuk meningkatmya tekanan darah.  

"Tentunya kelompok rentan sangat kita perhatikan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK maupun pekerja di luar ruangan," kata dia. 

Kemenkes mencatat, total sudah ada 333.470 kasus ISPA di tujuh provinsi atau 68 kabupaten/kota yang terdampak karhutla sejak 18 Agustus hingga 21 Oktober 2026. Adapun kasus ISPA harian yang masih menderita ISPA adalah 4.522 orang. 

"(Dari total kasus) Untuk kategori di bawah 5 tahun atau balita adalah 75.172 dan di atas umur 5 tahun adalah 258.258 kasus," ujar Then. 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi