REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan perubahan kebutuhan dunia kerja menuntut perguruan tinggi swasta (PTS) menyesuaikan strategi pendidikan, riset, serta pengembangan inovasi. Untuk menghadapi perubahan tersebut, Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyiapkan program pengembangan kepemimpinan bagi para rektor PTS.
Program bertajuk APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I tersebut berlangsung pada 21–23 Oktober 2026. Materi yang diberikan mencakup kepemimpinan, kebijakan pendidikan tinggi, kerja sama dengan industri, serta pengembangan kampus berbasis AI.
Ketua Umum APTISI Budi Djatmiko mengatakan, peningkatan kapasitas pimpinan perguruan tinggi menjadi salah satu faktor penting dalam memperbaiki mutu pendidikan. Para rektor diharapkan mampu menyesuaikan pengelolaan kampus dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
“Tantangan perguruan tinggi swasta saat ini sangat kompleks, mulai dari digitalisasi, artikulasi riset, hingga komersialisasi inovasi. Melalui AERLA, kita membangun kepemimpinan PTS yang kokoh, inovatif, dan siap membawa kampus swasta Indonesia bersaing di tingkat dunia serta berkontribusi langsung pada visi Indonesia Emas 2045,” kata Budi, Rabu (21/10/2026).
Menurut Budi, perubahan teknologi berpotensi mengubah proses pembelajaran, pengembangan riset, hingga tata kelola perguruan tinggi. Karena itu, pimpinan kampus perlu memiliki kemampuan untuk merespons perubahan sekaligus mempersiapkan lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja.
“Pendidikan ke depan akan sangat berbeda dibandingkan sekarang. Karena itu, kami harus mempersiapkan rektor dan pimpinan perguruan tinggi sejak dini agar mampu menghadapi perubahan tersebut,” ujar Budi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mendukung penyelenggaraan program pengembangan kepemimpinan tersebut. Menurut dia, kerja sama pemerintah dan perguruan tinggi swasta diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“AERLA hadir bukan sekadar sebagai diklat formal, melainkan gerakan transformasi pimpinan kampus untuk menciptakan kepemimpinan perguruan tinggi yang visioner, relevan dengan sains-teknologi terkini, serta mampu menjawab tantangan industri masa depan,” kata Brian.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Khairul Munadi menilai program tersebut sejalan dengan upaya meningkatkan kontribusi perguruan tinggi terhadap masyarakat dan dunia usaha. Kemendiktisaintek juga menjalankan program Future Leaders untuk mengembangkan kepemimpinan di perguruan tinggi negeri dan menyiapkan calon pemimpin masa depan.
Melalui AERLA, APTISI dan Kemendiktisaintek berharap pimpinan PTS dapat meningkatkan mutu pembelajaran, mengembangkan riset dan inovasi, serta membangun kerja sama yang lebih erat dengan industri. Program ini juga menjadi sarana bagi para rektor untuk bertukar pengalaman dalam menghadapi perubahan pendidikan tinggi.
Gagasan penyelenggaraan AERLA telah disusun sejak 2025 dengan skema pembiayaan bersama. Angkatan pertama dijadwalkan berakhir dengan prosesi wisuda peserta pada Jumat (23/10/2026) di Auditorium Kemendiktisaintek.
Dalam jangka panjang, APTISI berharap program tersebut dapat menjangkau sekitar 4.200 rektor lainnya. Pengembangan kapasitas kepemimpinan juga direncanakan mencakup dekan, ketua program studi, pimpinan perguruan tinggi, hingga pengurus yayasan.




