REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Puluhan orang berkumpul di depan Kedutaan Besar Azerbaijan di Holland Park, London barat, akhir pekan ini. Mereka datang untuk memprotes larangan pemerintah Azerbaijan terhadap penggunaan hijab di lembaga pendidikan.
Mereka menyatakan solidaritas terhadap perempuan dan remaja putri Muslim yang mengenakan hijab, serta mendukung hak mereka untuk menjalankan keyakinan agama dan melanjutkan pendidikan tanpa tekanan maupun diskriminasi.
Merujuk Middle East Monitor, Aksi protes ini diselenggarakan oleh Association of Students Activism for Palestine (ASAP) beserta mitra-mitranya. Para pengunjuk rasa menolak keputusan yang mereka anggap menyasar kebebasan mahasiswi dan siswi dalam memilih pakaian serta mengekspresikan identitas keagamaan mereka.
Mereka menegaskan bahwa mengenakan hijab adalah sebuah hak, dan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghalangi akses perempuan terhadap pendidikan atau mengeluarkan mereka dari sekolah maupun universitas. Sejumlah aktivis turut berbicara dalam aksi tersebut, termasuk pendakwah Islam ternama, Fadel Soliman.
Ia mengecam keras larangan tersebut, seraya menyatakan bahwa kebijakan itu bertentangan dengan ajaran Islam, dan bahwa seorang Muslim yang mendukung keputusan semacam itu berarti bertindak melawan keyakinannya sendiri.
Presiden ASAP, Nusaiba Mohamed, dan seorang mahasiswa bernama Osama Ghanem turut menyampaikan pandangan mereka, bersama dengan sejumlah mahasiswa lainnya. Mereka menolak larangan tersebut dan menyerukan penghormatan terhadap kebebasan berkeyakinan serta hak atas pendidikan. Mereka mendesak pihak berwenang untuk tidak menerapkan pembatasan yang menghalangi siswi atau mahasiswi untuk hidup sesuai dengan keyakinan agama mereka.
Aksi protes ini mempertemukan para aktivis dari berbagai latar belakang agama dan latar belakang lainnya. Mereka hadir untuk membela hak perempuan dalam menentukan pakaian yang ingin mereka kenakan—baik itu hijab maupun bukan—tanpa adanya paksaan atau campur tangan negara dalam pilihan pribadi mereka.
Para pembicara menegaskan bahwa kebebasan perempuan tidak berarti memaksanya untuk mengenakan hijab, dan juga tidak berarti melarangnya untuk mengenakan hijab. Kebebasan berarti menghormati kehendak dan hak perempuan tersebut untuk mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
Menurut mereka, pelarangan hijab di sekolah dan universitas melanggar kebebasan beragama dan kebebasan pribadi para pelajar, serta memaksa mereka dihadapkan pada pilihan yang tidak adil: antara keyakinan mereka dan pendidikan mereka.
Solidaritas terhadap perempuan yang mengenakan hijab menjadi inti dari aksi protes tersebut. Pesan tersebut jelas: hak seorang perempuan untuk mendapatkan pendidikan tidak boleh berbenturan dengan haknya untuk menjalankan keyakinan, dan hijab tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan diskriminasi atau pengucilan.
Para pengunjuk rasa menyatakan akan kembali mendatangi kedutaan tersebut setiap hari Jumat sampai ada pemberitahuan lebih lanjut, hingga larangan penggunaan hijab di lembaga pendidikan dicabut.




