Sabtu 17 Oct 2026 11:51 WIB

Kapal-Kapal Diserang, NATO Hadapi Ancaman Perang Baru

Rusia dituding teror kapal dagang, Bulgaria minta bantuan NATO.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Ilustrasi kapal melintasi laut hitam.
Foto: EPA-EFE/IGOR TKACHENKO
Ilustrasi kapal melintasi laut hitam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rangkaian serangan drone terhadap kapal-kapal dagang di Laut Hitam mulai menyeret Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ke dalam persoalan keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Bulgaria secara resmi meminta aliansi militer itu mengerahkan pesawat tempur dan sistem pertahanan antidrone setelah sejumlah kapal komersial diserang di dekat perairan Bulgaria dan Rumania.

Permintaan itu disampaikan Menteri Pertahanan Bulgaria Dimitar Stoyanov pada Jumat (16/10/2026), menyusul meningkatnya ancaman terhadap kapal sipil di kawasan yang berbatasan langsung dengan dua negara anggota NATO tersebut. Sejumlah serangan mengakibatkan kapal terbakar dan tenggelam, sementara puluhan pelaut dilaporkan tewas atau hilang.

Baca Juga

Reuters melaporkan, Bulgaria telah mengirimkan surat resmi kepada Sekretaris Jenderal NATO dan Panglima Tertinggi Sekutu NATO untuk meminta tambahan kekuatan pertahanan. Pemerintah Bulgaria menginginkan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman drone yang kini tidak hanya membahayakan kapal-kapal Ukraina, tetapi juga pelayaran komersial internasional.

"Kami telah mengirimkan surat dan permintaan kepada Sekretaris Jenderal NATO serta Panglima Tertinggi Sekutu untuk memperkuat kemampuan kami, termasuk dengan menempatkan pasukan tambahan di wilayah kami. Kami sedang menunggu keputusan mereka," kata Stoyanov.

Permintaan tersebut menjadi perkembangan penting dalam eskalasi konflik Laut Hitam. Serangan terhadap kapal-kapal dagang kini bukan hanya persoalan perang Rusia-Ukraina, melainkan juga ujian terhadap kemampuan NATO melindungi jalur perdagangan internasional di sekitar wilayah negara-negara anggotanya.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah bertemu dengan Perdana Menteri Bulgaria Rumen Radev dan Presiden Rumania Nicusor Dan pada Kamis (15/10/2026). Seusai pertemuan, Rutte menegaskan NATO akan terus menyesuaikan kemampuan pencegahan dan pertahanannya sesuai perkembangan ancaman di kawasan Laut Hitam.

Menurut Reuters, permintaan Bulgaria dijadwalkan dibahas para duta besar dari 32 negara anggota NATO pada pekan berikutnya. Sofia juga berencana bergabung dengan inisiatif pertahanan antidrone NATO sebelum akhir Oktober 2026.

Kapal Jagung Ukraina Dihantam Drone

Ketegangan terbaru di Laut Hitam bermula dari serangan terhadap kapal kargo Royad Mammadov pada 5 Oktober 2026. Kapal sepanjang 139 meter milik perusahaan Turki itu sedang mengangkut jagung dari Ukraina menuju Pelabuhan Ravenna, Italia, ketika dihantam drone di lepas pantai Rumania.

Menurut laporan The Telegraph, dua drone menghantam kapal tersebut dan menyebabkan kebakaran hebat. Kapal yang berada di dekat kawasan Sfântu Gheorghe itu kemudian menjadi pusat operasi penyelamatan yang melibatkan otoritas maritim Rumania.

Sebanyak 11 awak kapal berkewarganegaraan Azerbaijan dan India berhasil diselamatkan. Namun, dua jenazah ditemukan di laut, termasuk nakhoda kapal, sementara operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung di tengah kondisi perairan yang berbahaya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Rusia berada di balik serangan tersebut. Ia menyebut serangan terhadap kapal sipil pengangkut bahan pangan di perairan internasional sebagai tindakan yang mengancam keselamatan pelayaran dan ketahanan pangan dunia.

Euronews melaporkan, kapal Royad Mammadov berlayar dengan bendera Saint Kitts dan Nevis dan dioperasikan perusahaan Turki MG Shipping 5. Kapal tersebut terakhir terlacak meninggalkan Pelabuhan Izmail di wilayah Odesa, Ukraina, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Italia.

Lokasi serangan berada di zona ekonomi eksklusif Rumania, bukan di wilayah perairan teritorial negara tersebut. Perbedaan status hukum perairan ini menjadi penting karena serangan terjadi di kawasan yang berdekatan dengan wilayah NATO, tetapi tidak otomatis dapat diperlakukan sebagai serangan bersenjata terhadap negara anggota aliansi.

Insiden Royad Mammadov kemudian diikuti serangan terhadap sejumlah kapal lainnya. Dalam waktu kurang dari dua pekan, Laut Hitam berubah menjadi kawasan dengan risiko keamanan yang semakin tinggi bagi kapal-kapal komersial.

Dua Kapal Diserang di Dekat Bulgaria

Pada Selasa (13/10/2026), dua kapal dagang kembali menjadi sasaran serangan drone di lepas pantai Bulgaria. Kapal Chelsea 3 yang berbendera Malta dan dioperasikan perusahaan Ukraina dihantam tiga drone, sedangkan kapal HS Dignity berbendera Guinea-Bissau tenggelam setelah mengalami serangan.

Seluruh 15 awak Chelsea 3 berhasil dievakuasi. Sementara itu, lima awak HS Dignity berhasil diselamatkan dan 11 lainnya dilaporkan hilang setelah kapal tersebut tenggelam.

Perdana Menteri Bulgaria Rumen Radev menyatakan serangan terhadap kapal sipil tidak dapat diterima. Pemerintahannya juga memanggil Duta Besar Rusia di Sofia untuk meminta penjelasan mengenai rangkaian serangan yang semakin mendekati wilayah Bulgaria.

Radev mengakui belum terdapat bukti yang cukup untuk memastikan siapa pelaku serangan. Namun, ia mempertanyakan kemungkinan Ukraina menyerang kapal dan awak yang berkaitan dengan kepentingannya sendiri.

"Tidak ada logika bagi Ukraina untuk menyerang kapal dan awaknya sendiri, mengingat hasil seluruh serangan ini menguntungkan Rusia. Secara logis, arahnya memang ke sana," kata Radev sebagaimana dikutip The Telegraph.

Namun, ia menegaskan, "Masalahnya, kami tidak dapat membuktikannya."

Pernyataan tersebut memperlihatkan dilema keamanan yang dihadapi Bulgaria. Di satu sisi, pemerintahnya mencurigai keterlibatan Rusia berdasarkan pola dan dampak serangan. Di sisi lain, penetapan tanggung jawab secara resmi membutuhkan bukti teknis yang dapat dipertanggungjawabkan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi