Senin 12 Oct 2026 16:18 WIB

Atasi Keterbatasan Lahan, Pemprov DKI Integrasikan Gedung SD dan SMP

Pemprov DKI merevitalisasi 19 gedung sekolah dengan total anggaran Rp 876,79 miliar.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Erik Purnama Putra
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.
Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sengaja mengintegrasikan gedung sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) secara vertikal dalam program perbaikan yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu dilakukan untuk mengatasi keterbatasan lahan sekaligus meningkatkan kualitas sarana pendidikan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan, salah satu program revitalisasi yang dilakukan dengan mengintegrasikan SD dan SMP dilakukan di wilayah Pekayon, Jakarta Timur. Revitalisasi yang dilakukan sejak 2025 itu mengintegrasikan SDN Pekayon 5 dan SMPN 91 Jakarta Timur dengan biaya pembangunan mencapai Rp 101,3 miliar.

Baca Juga

"Persoalan di Jakarta itu persoalan lahan paling utama. Dengan semakin mahalnya lahan, maka harus diefektifkan supaya anak-anak pilihannya juga semakin banyak," kata Pramono saat melakukan peninjauan kedua sekolah tersebut pada Senin (12/10/2026).

Menurut dia, pembangunan gedung bertingkat memungkinkan sekolah menyediakan fasilitas olahraga, seperti lapangan basket, voli, dan sepak bola mini. Fasilitas tersebut sulit dihadirkan secara optimal apabila sekolah hanya memiliki bangunan satu lantai.

Pramono menjelaskan, gedung SDN Pekayon 5 dan SMPN 91 sebelumnya merupakan bangunan lama yang telah berusia sekitar 50 hingga 60 tahun. Setelah direvitalisasi dan diintegrasikan secara vertikal, kedua sekolah tersebut kini memiliki fasilitas yang lebih lengkap, termasuk lift, perpustakaan, kantin, dan ruang belajar.

Integrasi gedung, sambung dia, juga disebut berdampak pada sistem pembelajaran. Pasalnya, kegiatan belajar yang sebelumnya dilaksanakan dua shift saat ini dapat dilaksanakan dalam satu shift. Pramono mengatakan, revitalisasi sekolah merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI meningkatkan kualitas pendidikan.

Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada bantuan biaya pendidikan, tetapi juga ketersediaan sarana dan prasarana yang layak. "Kalau sarana dan prasarana pendidikan tidak dipersiapkan dengan baik, percuma. Karena itu, kami meminta Dinas Pendidikan memastikan fasilitas yang dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik," ucapnya.

Pada tahun sebelumnya, Pemprov DKI merevitalisasi 19 gedung sekolah dengan total anggaran Rp 876,79 miliar. Sebanyak 16 gedung telah selesai, sedangkan tiga lainnya memasuki tahap penyelesaian.

Pramono menambahkan, Pemprov DKI menempatkan pembenahan sarana dan prasarana sebagai bagian penting dari peningkatan kualitas pendidikan. Kebijakan tersebut berjalan bersama dukungan pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar (KJP) Plus dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).

"Dengan melakukan revitalisasi gedung sekolah lama, sarana dan prasarana pendidikan menjadi lebih baik. Ini membuat Jakarta menjadi lebih baik di bidang pendidikan. Terbukti yang selama ini Jakarta bukan nomor satu kota terdidik, kota pelajar, sekarang Jakarta menjadi kota pelajar nomor satu se-Indonesia," ujar Pramono.

Berita Lainnya

Rekomendasi