REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG — Kemampuan memecahkan masalah dan memahami teknologi dapat dibangun sejak anak berada pada usia sekolah. Pembelajaran pemrograman yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak dapat melatih logika, kreativitas, ketekunan, sekaligus kemampuan menyusun solusi secara bertahap.
Pendekatan tersebut terlihat dalam kompetisi Road To Future Creator Fest 2026 yang digelar di Carstensz Mall, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 25–26 Juli 2026. Kompetisi yang diselenggarakan DIGIKIDZ dan ROBOTKIDZ itu diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai sekolah, dengan 75 peserta mengikuti kategori pemrograman.
Peserta pemrograman dibagi dalam kelompok usia 7–9 tahun, 10–12 tahun, dan 13–16 tahun. Perangkat lunak serta kriteria penilaian disesuaikan dengan perkembangan kemampuan masing-masing kelompok.
Kelompok usia 7–9 tahun menggunakan Scratch 3 dengan penilaian meliputi isi cerita, gerakan atau animasi, kreativitas, dan kesesuaian tema. Sementara peserta berusia 10–12 tahun menggunakan Roblox Studio dengan penilaian pada alur permainan, rintangan, kreativitas, kesesuaian tema, dan ketepatan waktu.
Pada kelompok usia 13–16 tahun, peserta menggunakan Construct 3. Penilaian mencakup logika dan pemrograman, fungsi serta interaktivitas, kreativitas tantangan, kesesuaian tema, dan ketepatan waktu.
Pembagian tersebut menunjukkan pembelajaran pemrograman dapat dilakukan secara bertahap, mulai dari pengenalan konsep sederhana hingga penggunaan logika untuk menghasilkan karya yang lebih kompleks. Kompetisi juga memberi ruang bagi anak untuk menguji kemampuan yang diperoleh selama proses belajar.
Dalam kompetisi itu, tiga murid Technokids menempati tiga posisi teratas. Cherryl Valisha Leola, 11 tahun, meraih juara pertama kategori usia 10–12 tahun melalui proyek “Cyber Tower Escape the AI Core” setelah mengikuti program DIGIKIDZ selama lebih dari satu tahun.
Hendy Wijaya, 15 tahun, meraih juara kedua kategori usia 13–16 tahun melalui permainan “PingPong Game”. Ia mengikuti program ROBOTKIDZ dan telah belajar selama dua tahun, sedangkan Felix Adriel Halomoan Sihotang, 13 tahun, meraih posisi ketiga melalui proyek “PingPong Game” setelah mengikuti DIGIKIDZ selama satu tahun.
Ketiga peserta menjalani persiapan kompetisi dengan pendampingan pengajar Technokids Bimo Danang Febryanto. Pendiri dan Direktur Utama Course-Net, ITBOX, dan Technokids Fransiskus Alvin mengatakan, perkembangan kemampuan anak tidak lepas dari proses belajar yang konsisten.
“Yang membanggakan adalah bagaimana ketekunan dan juga daya juang yang mereka miliki. Mereka bertiga ini berbeda, tidak hanya tekun tapi juga konsisten dan memiliki teachable mindset, di mana mereka mau belajar dan mau diajar,” ujar Alvin, Jumat (9/10/2026).
Menurut Alvin, kompetisi juga dapat menjadi ruang bagi anak untuk melatih keberanian menunjukkan kemampuan yang telah dipelajari. Namun, kompetisi tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan karena proses belajar tetap menjadi unsur utama dalam membangun kemampuan teknologi sejak dini.
Pembelajaran pemrograman pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan perangkat lunak. Proses menyusun logika, mencoba solusi, menghadapi kesalahan, dan memperbaiki hasil menjadi keterampilan yang dapat digunakan anak dalam menghadapi berbagai persoalan di luar aktivitas pemrograman.




