REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kehutanan mengumumkan titik panas (hot spot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan kepercayaan tinggi (high confidence) nasional naik. Kementerian mengatakan saat ini pemadaman difokuskan ke Kalimatan Tengah yang mengalami hot spot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Dalam pernyataannya, Selasa (6/10/2026) Kementerian Kehutanan mengungkapkan berdasarkan data SiPongi, hot spot high confidence nasional hingga Senin (5/10/2026) mencapai 1.359 titik. Naik 832 titik dibandingkan hari sebelumnya, Ahad (4/10/2026) dengan 527 titik.
Lima dari enam provinsi prioritas karhutla 2026 mengalami kenaikan hot spot. Titik panas di Kalimatan Tengah naik menjadi 569 hot spot dari 116 hot spot. Sementara Sumatera Selatan 145 hot spot dari hari sebelumnya 75 hot spot.
Kalimatan Barat juga mengalami kenaikan titik panas menjadi 69 hot spot dari 19 hot spot. Kalimatan Selatan 28 hot spot dari 15 hot spot. Riau naik empat hot spot dari sebelumnya nihil. Sementara Jambi tetap nihil sama seperti hari sebelumnya.
"Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 812 hotspot high confidence, meningkat dari 225 titik sehari sebelumnya," kata Kementerian Kehutanan dalam pernyatannya.
Kementerian Kehutanan menegaskan mereka juga memperkuat kesiapsiagaan di seluruh provinsi prioritas. Kementerian menegaskan hot spot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hot spot. Seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan di lapangan.
Kementerian Kehutanan mengatakan pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Operasi udara berjalan bersama penguatan operasi di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan.
Perhatian khusus tetap diberikan pada lahan gambut. Kementerian menjelaskan bara api pada gambut dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah tidak lagi terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Selain perkembangan hotspot, Kementerian Kehutanan mengatakan akan terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat. Berdasarkan pantauan terkini, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang.
Namun, masih terdapat sejumlah wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, termasuk pada beberapa bagian Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Papua. Pada sejumlah lokasi juga terlihat kantong dengan kategori berbahaya.
Kondisi udara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer lainnya. Kementerian menghimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah.
"Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis," kata Kementerian.
Kementerian mengatakan karhutla juga dapat berdampak terhadap habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak.
Kementerian meminta masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan atau evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.




